Monday, December 22, 2008

OSTEOARTHRITIS

DEFINISI
Osteoarthritis adalah penyakit yang merupakan bagian dari arthritis, penyakit ini meyerang sendi terutama pada tangan, lutut dan pinggul. Orang yang terserang osteoarthritis biasanya susah menggerakkan sendi-sendinya dan pergerakannya menjadi terbatas karena turunnya fungsi tulang rawan untuk menopang badan. Hal ini dapat mengganggu produktifias seseorangOsteoarthritis tidak hanya menyerang orang tua, tapi juga bisa menyerang orang yang muda dan berdasarkan penelitian, kebanyakan orang yang terkena osteoarthritis adalah wanita1,2,3.

ETIOLOGI
Tidak ada bakteri atau virus yang menyebabkan osteoarthritis. Adapun penyebab dari osteoarthritis adalah1:
1. adanya peradangan kronis pada persendian
ditandai dengan pembengkakan pada jari-jari tangan, siku, dan lutut. Biasanya daereah yang mengalami pembengkakan, berwarna kemerah-merahan
2. pernah mengalami trauma dan radang pada sendi
3. karena faktor usia
kebanyakan orang yang terkena osteoarthritis adalah orang dengan usia diatas 50 tahun.
4. keturunan
ada beberapa orang yang mengalami osteoarthritis karena faktor keturunan
5. berat badan yang berlebihan
berat badan yang berlebihan, dapat memberatkan sendi dalam menopang tubuh.
6. stres pada sendi
biasanya stres pada sendi ini terjadi pada olahragawan.
7. neurophaty perifer
TANDA-TANDA
Untuk mengetahui apakah kita terserang penyakit ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut2:
1. biasanya, osteoarthritis terjadi secara perlahan, dimulai dari rasa sakit pada sendi setelah melakukan aktivitas, seperti olahraga, kemudian lama-kelamaan akan terasa lebih sakit dan kaku
2. pada tangan: jari-jari membesar, terasa sakit, kaku bahkan mati rasa
3. pada lutut: lutut terasa sakit dan kaku. Susah digunakan untuk berjalan dan dapat menyebabkan cacat
4. pada pinggul: terasa sakit dan kaku pada kunci paha dan dapat membatasi pergerakan
5. pada punggung/tulang belakang: terasa sakit dan kaku pada leher

DIAGNOSIS
Untuk mengetahiu apakah seseorang terkana penyakit osteoarthritis, ada beberapa cara yang biasanya digunakan oleh dokter untuk menegakkan diagnosis, diantaranya2:
1. Riwayat penyakit
Dokter menanyakan pada pasien tentang gejala yang dialami, kapan mulai terjadi, dan bagaimana hal itu terjadi untuk menegakkan diagnosis. Dan dokter juga menanyakan, apakah ada masalah dengan obat tertentu untuk alternatif pemberian obat jika ternyata pasien tidak cocok dengan jenis obat tertentu.
2. Pemeriksaan fisik
Pada penderita osteoarthritis, pemeriksaan fisik ini biasanya dilakukan dengan memeriksa kemampuan berjalan.
3. X ray
Xray untuk mengetahui sejauh mana sendi mengalami kerusakan. X ray dapat memperlihatkan rusaknya tulang.

4. MRI (Magnetic Resonance Imaging)
Magnetic resonance imaging dapat memberikan gambar-gambar seperti jaringan dalam tubuh dengan resolusi yang tinggi. MRI jika diduga ada penyakit dalam jaringan tubuh.
5. Tes lain
Dokter akan melakukan tes darah untuk mengetahui penyebab lain dari gejala yang timbul.

TERAPI NON FARMAKOLOGI
Ada beberapa cara dalam penanganan osteoarthritis non farmakologi, diantaranya2,3:
1. Olahraga
Olahraga dapat mengurangi rasa sakit dan dapat membantu mengontrol barat badan.
Olahraga untuk osteoarthritis misalnya berenang dan jogging.
2. Menjaga sendi
Menggunakan sendi dengan hati-hati dapat menghindari kelebihan stres pada sendi.
3. Panas/dingin
Panas didapat, misalnya dengan mandi air panas. Panas dapat mengurangi rasa sakit pada sendi dan melancarkan peredaran darah.
Dingin dapat mngurangi pembengkakan pada sendi dan mengurangi rasa sakit. Dapat didapat dengan mengompres daerah yang sakit dengan air dingin.
4. Viscosupplementation
merupakan perawatan dari Canada untuk orang yang terkena osteoarthritis pada lutut, berbentuk gel.
5. Pembedahan
Apabila sendi sudah benar-benar rusak dan rasa sakit sudah terlalu kuat, akan dilakukan pembedahan. Dengan pembedahan, dapat memperbaiki bagian dari tulang.
6. Akupuntur
Dapat mengurangi rasa sakit dan merangsang fungsi sendi.
7. Pijat
Pemijatan sebaiknya dilakukan oleh orang yang ahli di bidangnya.
8. vitamin D,C, E, dan beta karotin
untuk mengurangi laju perkembangan osteoarthritis.
9. Teh hijau
Memiliki zat anti peradangan.

TERAPI FARMAKOLOGI
Semua obat memiliki efek samping yang berbeda, oleh karena itu, penting bagi pasien untuk membicarakan dengan dokter untuk mengetahui obat mana yang paling cocok untuk di konsumsi. Berikut adalah beberapa obat pengontrol rasa sakit untuk penderita osteoarthritis2, 3, 4, 5:
1. Acetaminophen
Merupakan obat pertama yang di rekomendasikan oleh dokter karena relatif aman dan efektif untuk mengurangi rasa sakit.
2. NSAIDs (nonsteroidal anti inflammatory drugs)
Dapat mengatasi rasa sakit dan peradangan pada sendi. Mempunyai efek samping, yaitu menyebabkan sakit perut dan gangguan fungsi ginjal.
3. Topical pain
Dalam bentuk cream atau spray yang bisa digunakan langsung pada kulit yang terasa sakit.
4. Tramadol (Ultram)
Tidak mempuyai efek samping seperti yang ada pada acetaminophen dan NSAIDs.
5. Milk narcotic painkillers
Mengandung analgesic seperti codein atau hydrocodone yang efektif mengurangi rasa sakit pada penderita osteoarthritis.
6. Corticosteroids
Efektif mengurangi rasa sakit.
7. Hyaluronic acid
Merupakan glycosaminoglycan yang tersusun oleh disaccharides of glucuronic acid dan N-acetygluosamine. Disebut juga viscosupplementation.
Digunakan dalam perawatan pasien osteoarthritis. Dari hasil penelitian yang dilakukan, 80% pengobatan dengan menggunakan hyaluronic acid mempunyai efek yang lebih kecil dibandingkan pengobatan dengan menggunakan placebo. Makin besar molekul hyaluronic acid yang diberikan, makin besar efek positif yang di rasakan karena hyaluronic acid efektif mengurangi rasa sakit.
8. Glucosamine dan chondroitin sulfate
Mengurangi pengobatan untuk pasien osteoarthritis pada lutut.

PENCEGAHAN
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar kita terhindar dari osteoarthritis1:
1. menghindari olahraga yang bisa meyebabkan sendi terluka
2. mengontrol berat badan agar berat yang ditopang oleh sendi menjadi ringan
3. minum obat untuk mencegah osteoarthritis





DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim.Osteoarthritis.http://new.merapi.net/index.php?view=news/116&id=116&PHPSESSID=4ca6439313b991ed97f43906b994. 17 november 2007
2. Anonim. Handout of Health: Osteoarthritis. http://www.niams.nih.gov/Health_Info/Osteoarthritis/default.asp. 17 november 2007
3. Anonim. What is Osteoarthritis. http://www.arthritis.ca/types%20of%20arthritis/osteoarthritis/default.asp?s=1. 17 november 2007
4. Felson, D.T. 2006. Osteoarthritis of the Knee. NEJM 354: 841-848
5. Lane, N. E. 2007. Osteoarthritis of the Hip. NEJM 357: 1413-1421



READ MORE - OSTEOARTHRITIS

10 Trik Bikin Cewek 'Mengejar' Cowok

Cowok memang ditakdirkan lebih agresif ketimbang cewek. Itulah kenapa akhirnya cowok menjadi pihak yang lebih banyak mengejar daripada dikejar-kejar. Tapi kini, tidak sedikit cewek yang "tergila-gila" kepada cowok dan berusaha mengejarnya. Ini jelas terlihat, bukan hanya di cerita film-film, sinetron atau novel. Tapi juga di kehidupan nyata. Bagaimana agar hal itu terjadi pada diri kamu?
Berikut ini, ada 10 cara yang diyakini ampuh membuat para cewek "tergila-gila" sama cowok -yang disarikan dari berbagai sumber-:
1. Jujur dan gentle
Sebenarnya, bukan perkara sulit membuat dia 'mendatangi' kamu. Tentu saja asal tahu caranya. Begini salah satunya, begitu kamu merasa bertemu dengan seorang cewek yang seseuai dengan apa yang diidam-idamkan, maka tunjukan bahwa kamu adalah pria jujur, sopan, sekaligus charming. Tunjukkan juga kalau kamu tuh sangat antusias untuk mendengarkan ceritanya. Kalau kamu bisa terlihat seperti itu, bisa dipastikan cewek-cewek bakal kepingin nempel terus.
2. Jangan terlalu banyak menilai
Ini nih kebiasaan yang sering dilakukan banyak cowok -cewek juga sih-. Padahal semua orang tahu, tidak ada manusia yang sempurna atau nobody's perfect. Yah, siapa yang nggak jengkel. Kalau dinilai-nilai terus, cewek juga bakal sebal. Apalagi kalau dibanding-bandingkan dengan cewek lain, bisa-bisa dia malah menjauhi kamu.
3. Jangan mengikat
Kamu boleh saja menyukainya, sekaligus berharap dia akan menyukai kamu tentunya. Tapi bukan lantas kamu harus mengekang atau mengikatnya. Beri dia ruang gerak. Maksudnya jangan keseringan menyorongkan diri di sekitar dia. Biarkan dia menebak-nebak, dimana kamu berada, sedang melakukan apa dan sama siapa. Asal tahu saja, ketidakhadiran kamu itu, justru bisa menumbuhkan kerinduan dalam dirinya.
4. Willing
Saat dia bercerita sesuatu, tunjukkan kesan bahwa kamu tertarik dan antusias mendengarkan ceritanya. Tunjukkan pula bahwa kamu bersedia mendengarkan keluhan dan curahan hatinya. Entah cerita biasa-biasa saja atau masalah keluarga, pekerjaan, hobi, sampai mimpi-mimpinya. Jangan lupa untuk menanggapi cerita-ceritanya dengan pendapat yang brilian, tanpa terkesan menggurui.
5. Banyak senyum
Sudah jadi rahasia umum kalau senyuman itu merupakan salah satu senjata ampuh untuk menebar pesona. Pun, kata para ahli, tersenyum itu merupakan refleksi diri seseorang yang punya pemikiran positif. Nah, kalau kamu memang gemar tersenyum, maka tularkan kebiasaan tersebut ke cewek yang ditaksir. Caranya? Bikin dong dia tersenyum lewat joke-joke yang kamu lontarkan.
Tapi ingat, don't be selfish, dong. Jangan cuma dia yang kamu bikin tersenyum, tapi akan lebih baik jika kamu bisa membuat teman-temannya bahkan juga keluarganya untuk tersenyum juga. Coba saja lihat hasilnya, dia pasti makin terpesona dengan kamu. Apalagi survei membuktikan kalau 9 dari 10 wanita lebih menyukai cowok yang punya selera humor tinggi.
6. Jadi yang terbaik
Menjadi yang terbaik, bukan lantas kamu harus melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mampu dilakoni. Jangan memaksakan diri, be the best you can be saja. Nggak susah kok. Kamu pasti tahu dong apa yang digemari para cewek? Dengan tampil bersih, harum, nafas segar, dan nggak terlalu berantakan, cewek pasti banyak yang melirik.
7. Jangan mengejar duluan
Cobalah untuk menahan keinginan melancarkan aksi terlebih dahulu. Kamu harus agak sabar, kamu boleh saja meneleponya, tapi jangan terlalu sering -selusin kali dalam sehari misalnya. Usahakan juga untuk tidak sering-sering mengirim SMS atau e-mail yang isinya penuh dengan bullshit. Seperlunya saja, tapi usahakan agar isi pembicaraan -kalau menelepon- cukup bermakna dan membuat dia terpesona.
8. Jual mahal sedikit
Yang ini merupakan lanjutan atau bentuk lain dari nasihat yang melarang cowok untuk mengejar cewek duluan. Meskipun mungkin si cewek tahu betul bahwa kamu sebenarnya ngebet dan "tergila-gila" sama dia, coba deh keukeuh untuk tidak melayani apa maunya. Pura-pura cuek kalau kamu sedang di dekatnya.
9. Biarkan dia menebak-nebak
Perlu diketahui bahwa, mahluk yang namanya cewek itu gemar akan sesuatu yang bersifat misterius, lho. Itulah kenapa banyak cewek yang menjadi pengarang cerita-cerita berbumbu petualangan dan misteri, seperti Agatha Christie atau Enid Blyton. Bikin dia seperti itu. Caranya?
Jangan langsung membuka diri. Beri dia sedikit-sedikit saja tentang siapa sebenarnya kamu. Soalnya, kalau langsung membuka diri bisa-bisa dia akan bosan dan bilang "sudah nggak ada tantangan lagi". Makanya biarkan rasa ingin tahunya tentang diri kamu terus tumbuh dan berkembang. Dengan begitu, dia pun akan selalu berharap untuk mengenal kamu lagi dan lagi.
10. Jangan sok akrab
Tidak sedikit cowok yang bertanya-tanya, kenapa para cewek lebih memilih menjadi sahabat ketimbang menjadi kekasih. Salah satu jawabannya adalah, dia mungkin merasa hubungan dengan kamu sudah kelewat dekat, sehingga lebih enak untuk dijadikan teman. Nah, bila kamu benar-benar suka sama cewek, sebaiknya jangan dulu sok akrab. Begicu.


READ MORE - 10 Trik Bikin Cewek 'Mengejar' Cowok

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA

DEFINISI
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau disebut tumor prostat jinak adalah pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ganas4. Pembesaran prostat jinak akibat sel-sel prostat memperbanyak diri melebihi kondisi normal, biasanya dialami laki-laki berusia di atas 50 tahun2.
ETIOLOGI
BPH adalah tumor jinak pada pria yang paling sering ditemukan. Pria berumur lebih dari 50 tahun, kemungkinannya memiliki BPH adalah 50%. Ketika berusia 80–85 tahun, kemungkinan itu meningkat menjadi 90%. Beberapa teori telah dikemukakan berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor perubahan usia, di antaranya4:
1. Teori DHT (dihidrotestosteron). Testosteron dengan bantuan enzim 5- reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar prostat.
2. Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk merangsang pertumbuhan epitel.
3. Teori stem cell hypotesis. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying. Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini akan berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal.
4. Teori growth factors. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya penurunan ekspresi transforming growth factor- (TGF-), akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan menghasilkan pembesaran prostat.

FISIOLOGI
Fungsi Kelenjar Prostat
Kelenjar prostate menyekresi cairan encer, seperti susu, yang mengandung ion sitrat, kalsium,ion fosfat, enzim pembeku, dan profibrinolisin. Selama pengisian, simpai kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas deferens sehingga cairan encer seperti susu yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat menambah lebih banyak lagi jumlah semen. Sifat yang sedikit basa dari cairan prostat mungkin penting untuk suatu keberhasilan fertilisasa ovum, karena cairan vas deferens relatif asam akibat adanya asam sitrat dan hasil akhir metabolisme sperma, dan sebagai akibat, akan menghambat fertilisasi sperma. Juga, secret vagina bersifat asam (pH 3,5 sampai 4,0). Sperma tidak dapat bergerak optimal sampai pH sekitarnya meningkat kira-kira 6 sampai 6,5. Akibatnya, merupakan suatu kemungkinan bahwa cairan prostate menetralkan sifat asam dari cairan lainnya setelah ejakulasi dan juga meningkatkan motilitas dan fertilitas sperma1.

PATOLOGI
Perubahan paling awal pada BPH adalah di kelenjar periuretra sekitar verumontanum4.
a. Perubahan hiperplasia pada stroma berupa nodul fibromuskuler, nodul asinar atau nodul campuran fibroadenomatosa.
b. Hiperplasia glandular terjadi berupa nodul asinar atau campuran dengan hiperplasia stroma. Kelenjar-kelenjar biasanya besar dan terdiri atas tall columnar cells. Inti sel-sel kelenjar tidak menunjukkan proses keganasan.
BPH adalah perbesaran kronis dari prostat pada usia lanjut yang berkorelasi dengan pertambahan umur. Perubahan yang terjadi berjalan lambat dan perbesaran ini bersifat lunak dan tidak memberikan gangguan yang berarti. Tetapi, dalam banyak hal dengan berbagai faktor pembesaran ini menekan uretra sedemikian rupa sehingga dapat terjadi sumbatan partial ataupun komplit3.

Penurunan kadar serum testosteron, dan kadar estrogen meningkat. Juga terdapat teori bahwa rasio estrogen/androgen yang lebih tinggi akan merangsang hyperplasia jaringan prostat. Proses patologis lainnya adalah penimbunan jaringan kolagen dan elastin di antara otot polos yang berakibat melemahnya kontraksi otot. Hal ini mengakibatkan terjadinya hipersensitivitas pasca fungsional, ketidakseimbangan neurotransmiter, dan penurunan input sensorik, sehingga otot detrusor tidak stabil.

GEJALA DAN TANDA
Gejala dan Tanda
Gejala pembesaran prostat jinak dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, gejala iritatif, terdiri dari sering buang air kecil (frequency), tergesa-gesa untuk buang air kecil (urgency), buang air kecil malam hari lebih dari satu kali (nocturia), dan sulit menahan buang air kecil (urge incontinence). Kedua, gejala obstruksi, terdiri dari pancaran melemah, akhir buang air kecil belum terasa kosong (incomplete emptying), menunggu lama pada permulaan buang air kecil (hesitancy), harus mengedan saat buang air kecil (straining), buang air kecil terputus-putus (intermittency), dan waktu buang air kecil memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan terjadi inkontinen karena overflow4.

DIAGNOSIS
Diagnosa ditegakkan dari anamnesa yang meliputi keluhan dari gejala dan tanda obstruksi dan iritasi. Kemudian dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk merasakan/meraba kelenjar prostat. Dengan pemeriksaan ini bisa diketahui adanya pembesaran prostat, benjolan keras (menunjukkan kanker) dan nyeri tekan (menunjukkan adanya infeksi).

Selain itu biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi ginjal dan untuk penyaringan kanker prostat (mengukur kadar antigen spesifik prostat atau PSA).
Pada penderita BPH, kadar PSA meningkat sekitar 30-50%. Jika terjadi peningkatan kadar PSA, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan apakah penderita juga menderita kanker prostat.

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan BPH berupa4 :
A. Watchful Waiting
Watchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan. Tindakan yang dilakukan adalah observasi saja tanpa pengobatan.
B. Terapi Medikamentosa
Pilihan terapi non-bedah adalah pengobatan dengan obat (medikamentosa).
C. Terapi Bedah Konvensional
Open simple prostatectomy
Indikasi untuk melakukan tindakan ini adalah bila ukuran prostat terlalu besar, di atas 100g, atau bila disertai divertikulum atau batu buli-buli.
D. Terapi Invasif Minimal
1. Transurethral resection of the prostate (TUR-P)
Menghilangkan bagian adenomatosa dari prostat yang menimbulkan obstruksi dengan menggunakan resektoskop dan elektrokauter.
2. Transurethral incision of the prostate (TUIP)
Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan dengan ukuran prostat kecil.
E. Terapi laser
Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP) yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual laser ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy.
F. Terapi alat
1. Microwave hyperthermia
Memanaskan jaringan adenoma melalui alat yang dimasukkan melalui uretra atau rektum sampai suhu 42-45oC sehingga diharapkan terjadi koagulasi.
2. Trans urethral needle ablation (TUNA)
Alat yang dimasukkan melalui uretra yang apabila posisi sudah diatur, dapat mengeluarkan 2 jarum yang dapat menusuk adenoma dan mengalirkan panas, sehingga terjadi koagulasi sepanjang jarum yang menancap di jaringan prostat.
3. High intensity focused ultrasound (HIFU)
Melalui probe yang ditempatkan di rektum yang memancarkan energi ultrasound dengan intensitas tinggi dan terfokus.
4. Intraurethral stent
Adalah alat yang secara endoskopik ditempatkan di fosa prostatika untuk mempertahankan lumen uretra tetap terbuka.
5. Transurethral baloon dilatation
Dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat mendilatasi fosa prostatika dan leher kandung kemih.

PROGNOSIS
Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker prostat. Menurut penelitian, kanker prostat merupakan kanker pembunuh nomer 2 pada pria setelah kanker paru-paru5. BPH yang telah diterapi juga menunjukkan berbagai efek samping yang cukup merugikan bagi penderita.

PENCEGAHAN
Kini, sudah beredar suplemen makanan yang dapat membantu mengatasi pembesaran kelenjar prostat. Salah satunya adalah suplemen yang kandungan utamanya saw palmetto. Berdasarkan hasil penelitian, saw palmetto menghasilkan sejenis minyak, yang bersama-sama dengan hormon androgen dapat menghambat kerja enzim 5-alpha reduktase, yang berperan dalam proses pengubahan hormon testosteron menjadi dehidrotestosteron (penyebab BPH)5. Hasilnya, kelenjar prostat tidak bertambah besar.

Zat-zat gizi yang juga amat penting untuk menjaga kesehatan prostat di antaranya adalah :
1. Vitamin A, E, dan C, antioksidan yang berperan penting dalam mencegah pertumbuhan sel kanker, karena menurut penelitian, 5-10% kasus BPH dapat berkembang menjadi kanker prostat.
2. Vitamin B1, B2, dan B6, yang dibutuhkan dalam proses metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, sehingga kerja ginjal dan organ tubuh lain tidak terlalu berat.
3. Copper (gluconate) dan Parsley Leaf, yang dapat membantu melancarkan pengeluaran air seni dan mendukung fungsi ginjal.
4. L-Glysine, senyawa asam amino yang membantu sistem penghantaran rangsangan ke susunan syaraf pusat.
5. Zinc, mineral ini bermanfaat untuk meningkatkan produksi dan kualitas sperma.





KESIMPULAN
1. Benign Prostatic Hyperplasia ( BPH ) merupakan pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ganas dan biasa menyerang pria diatas 50 tahun.
2. Penyebab BPH tidak diketahui, tetapi mungkin akibat adanya perubahan kadar hormon yang terjadi karena proses penuaan.
3. Gejala dan tanda-tanda dari BPH yaitu sering buang air kecil, tergesa-gesa untuk buang air kecil, buang air kecil malam hari lebih dari satu kali, sulit menahan buang air kecil, pancaran melemah, akhir buang air kecil belum terasa kosong, menunggu lama pada permulaan buang air kecil, harus mengedan saat buang air kecil, buang air kecil terputus-putus, dan waktu buang air kecil memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan terjadi inkontinen karena overflow.
4. Penatalaksanaan BPH berupa watchful waiting, medikamentosa, terapi bedah konvensional, terapi minimal invasif, dan farmakoterapi.
5. Prognosis BPH tidak dapat diprediksi, tetapi dapat dikatakan buruk jika tidak segera ditangani karena dapat berkembang menjadi kanker prostate yang bersifat mematikan.
6. Upaya pencegahan BPH adalah dengan menjalankan pola hidup sehat. Di antaranya mengonsumsi buah-buahan yang kaya akan antioksidan seperti tomat, alpokat, kacang-kacangan, dan mengkonsumsi makanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan akan zat-zat gizi esensial, vitamin dan mineral.







DAFTAR PUSTAKA
1. Arthur C. Guyton, dkk. 2006. “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. Edisi 9. Jakarta : EGC
2. Sylvia A. Price, dkk. 2006. “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. Edisi 6. Volume 2. Jakarta : EGC

JURNAL
3. Pendekatan Farmakologis pada Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) oleh I. Nasution. http://www.tempo.co.id/medika/online/tmp.online.old/pus-3.htm
4. Pembesaran Prostat Jinak oleh Ponco Birowo dan Djoko Rahardjo. http://www.tempo.co.id/medika/arsip/072002/pus-3.htm
5. Pembesaran Prostat Sering Tak Bergejala oleh Wiwied.
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0504/02/hikmah/lainnya02.htm


READ MORE - BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA

PELAKSANAAN FITTING DAN FINISHING

PELAKSANAAN FITTING DAN FINISHING
A. Pemeriksaan (Assessment)
Pemeriksaan (assessment) bertujuan untuk pengkajian data, data yang diperoleh digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan proses OP. Pengkajian data tersebut antara lain diperoleh dari (1) anamnesis, (2) pemeriksaan fisik, (3) pengukuran yang relevan, (4) pemeriksaan kemampuan fungsional, (5) analisis hambatan..
1. Anamnesis

Adalah komunikasi tanya jawab secara langsung kepada pasien (auto anamnesis) dan atau kepada orang tua atau orang lain yang mengetahui riwayat penyakit pasien (hetero anamnesis) dengan ortotis prostetis (HI, 2006). Dalam pelaksanaannya telah menghasilkan data :
a. Identitas pasien
Nama pasien:Tri Yuliyanto, usia: 48 tahun, jenis kelamin: laki-laki, agama: Islam, pekerjaan: pensiunan TNI AU, alamat :Perumahan Banukan Indah No.01 Rt 01 Rw X Kecamatan :Colomadu, Kabupaten: Karanganyar.
b. Sebab / latar belakang terjadinya amputasi
Pada bulan April 2007 terjadi kecelakaan lalu-lintas, pasien dirawat di RSAL dr. Ramelan Surabaya selama 7 ( tujuh ) bulan April – Oktober 2007.Bulan November 2007 dilakukan amputasi.

c. Keadaan umum / kognitif pasien
Dari pemeriksaan yang telah dilaksanakan, pasien mempunyai keluhan utama yaitu ketiadaan tungkai bawah dan ada kemauan untuk menggunakan prostesis. Adapun keadaan keadaan kognitif dari pasien sangat baik, masa sekarang ataupun masa lalu, selain itu pasien mampu berkomunikasi dan dapat mengikuti instruksi dari ortotis prostetis dengan baik.
d. Riwayat penyakit pasien
Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit sebelumnya tidak menderita penyakit TBC( Tuberculosis ) ataupun kanker.

2. Pemeriksaan fisik

a. Inspeksi / periksa pandang
Ha-hal yang perlu diperhatikan dari pemeriksaan pandang ini antara lain (1) bentuk dari stump, (2) keadaan visual dari stump, (3) keadaan pada ujung stump. Stump pasien termasuk long stump,bentuk mengerucut serta tak tampak adanya warna kemerahan atu lecet pada permukaan kulit stump.
b. Palpasi / periksa raba
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan raba ini antara lain (1) apakah masih ada tonjolan tulang pada ujung stump ?, (2) apakah masih terasa sakit / nyeri pada bagian tertentu dari stump ?, (3) adakah udema ?, (4) adakah luka / infeksi sekunder ?. Pada stump pasien tidak ada tonjolan tulang tibia, tidak ada rasa nyeri bila ditekan atau diraba pada ujung stump-nya, tidak terdapat udema, dan tidak ada luka atau infeksi sekunder.


c. Pemeriksaan gerak dasar.
Dilakukan dengan cara MMT ( Manual Muscle Testing ). Karena dengan dilakukannya pengetesan gerak dasar, dapat diperoleh keterangan seberapa besar kekuatan otot dari anggota gerak yang diamputasi dan yang masih normal. Dengan demikian dapat diindikasikan jenis protesis apa yang mungkin tepat untuk pasien.
Dari pemeriksaan gerak fleksi-ekstensi pada pasien diketahui bahwa gerakan fleksi dari lutut yang diamputasi mempunyai kekuatan otot yang bagus yaitu mempunyai nilai 4+ dan pada fleksi ekstensi sendi hip juga mempunyai nilai otot 4+.Pada lutut gerakan fleksi ekstensi mampu menggerakkan secara aktif dengan LGS penuh.

3. Pengukuran relevan

Pengukuran dilakukan dengan mengambil ukuran dari tungkai yang sehat dan tungkai yang mengalami amputasi. Hasil pengukurannya antara lain adalah :
a. Pengukuran tungkai yang sehat
Dari pengukuran yang telah dilakukan saat pemeriksaan pasien diperoleh data untuk tungkai yang sehat ukurannya antara lain (1) panjang KB 45 cm, (2) besar circum betis terbesar 37 cm dan betis terkecil 22 cm, (3) ukuran telapak kaki panjang 25 cm, circum metatarsal joint 24cm, circum tengah kaki 25,5 dan circum punggung kaki 33 cm.


b. Pengukuran tungkai yang diamputasi
Untuk hasil pengambilan ukuran stump adalah (1) lingkar Supra condylar 39 cm, (2) lingkar bawah patella 40,5 cm, (3) lingkar terbesar 33, (4) lingkar terkecil 29, (5) panjang stump 21 cm.

4. Pemeriksaan kemampuan fungsional

Aktifitas keseharian pasien tanpa menggunakan protesis yaitu menggunakan bantuan dua kruk untuk mobilitas sehari-hari. Pemeriksaan fungsional pasien yang berhubungan dengan lingkungan antara lain pasien masih aktif jalan-jalan di sekitar rumah dan daerah sekitar. Aktifitas produksi, rekreasi, komunikasi masih sangat bagus dengan masih mampunya subyek untuk bekerja, berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain dengan baik.
Kemampuan aktifitas fungsional dasar pasien juga masih sangat bagus karena pasien dapat melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain.

5. Analisis hambatan

Meliputi analisis hambatan yang berasal dari internal pasien dan eksternal pasien. Kondisi dari pasien yang dapat digambarkan antara lain untuk hambatan internalnya yaitu pasien mengalami amputasi bawah lutut kanan. Stabilitas sendi lutut baik, tidak terdapat tonjolan tulang tibia dan tulang patella. Lingkungan eksternal pasien tidak terdapat arsitektur yang membuat pasien tidak kesulitan, untuk mobilitas dengan menggunakan bantuan dua kruk. Keadaan lingkungan sekitar datar dekat jaln raya beraspal.


6. Pemeriksaan protesis lama

Pasien belum pernah menggunakan protesis sebelumnya.
B. Problematika OP
1. Diagnosa OP
Setelah pasien menerima tindakan amputasi yang mengakibatkan pasien kehilangan salah satu anggota gerak tubuh dan mengalami kesulitan ambulasi bahkan gangguan aktivitas fungsional. Dampak yang menyertai dengan adanya gangguan pola jalan yang tidak stabil, sehingga pentingnya peranan dari ortotis prostetis dalam mengembalikan fungsi gerak dan mengembalikan pasien kelingkungannya. Ada berbagai problematika bagi ortotis prostetis dalam menentukan jenis prostesisnya yaitu masalah dari diri pasien itu sendiri yang meliputi : (1) struktur tulang yang tidak rata dan kelemahan otot – otot pada tungkai bawah, (2) terganggunya fungsi berjalan akibat hilangnya salah satu anggota gerak, (3) potensial terjadinya deformitas sekunder akibat hilangnya tungkai bawah.
Sedangkan problematika yang muncul pada rancang bangun prostesis yang dibuat yaitu : (1) Penentuan jenis protesis yang sesuai, (2) Penentuan bahan yang diperlukan.

2. Desain Rancang Bangun
a. Jenis prostesis yang sesuai
Jenis prostesis yang sesuai untuk masalah di atas adalah prostesis PTB Supra Condylar, karena pasien dengan indikasi stump yang panjang, instabilitas mediolateral ringan, suplai darah yang terhambat, kontrol ekstensi lutut ringan. Bahan-bahan yang digunakan
Pada pembuatan prostesis PTB ini penulis menggunakan bahan – bahan endoskeletal prostesis. Adapun bahan – bahan yang dipakai adalah sebagai berikut : (1) Polypropylen 4 mm, (2) pedelin 5 mm, (3) socket adaptor, (4) pilon tube, (5) foot adaptor, (6) kayu waru, (7) foot bolt (8) lem aibon, (9) stockinet, (10) kulit oscar, , (11) plaster gip.
c. peralatan yang digunakan
peralatan yang digunakan dalam pembuatan prostesis PTB Supra Condylar ini adalah sebagai berikut : (1) gunting gip, (2) patar gip, (3) meteran kain, (4) kaliper, (5) kawat kasa, (6) ragum gip. Ini adalah peralatan yang digunakan untuk casting, sedangkan peralatan yang digunakan untuk fabrikasi adalah : (1) patar kayu, (2) tatah, (3) hummer, (4) roter, (5) oven, (6) mesin bor, (7) kunci L.

3. Proses Pembuatan

a. Pengukuran
Pengukuran sangat diperlukan dalam proses pembuatan protesis. Pengukuran dibedakan menjaadi 2(dua) macam yaitu pengukuran pada anggota gerak bawah yang mengalami kecacatan dan pengukuran pada anggota gerak yang normal.
Adapun tahapan dalam proses pengukuran meliputi persiapan tempat, persiapan alat, persiapan pasien dan pelaksanaan pengukuran.
1) Persiapan tempat
Ruangan yang digunaakan dalam pengukuran sebaiknya tertutup, cukup terang bersih dan cukup fentilasi.
2) Persiapan alat
Di dalam ruang ukur harus disediakan peralatan diantaranya yaitu : (1) bed ukur, (2) meja, (3) kursi, (4) alat tulis, (5) meteran kain, (6) jangka berkaki, (7) goniometer, (8) blangko ukur.
3) Persiapan pasien
untuk kelancaran dalam proses pengukuran pasien dimohon mengenakan pakaian yang minim, oleh karena itu motivasi yang tepat sangat di perlukan oleh pasien
4) Pelaksanaan pengukuran
Pelaksanaan pengukuran pada prostesis PTB Supra Condylar dilakukan dengan duduk di kursi dengan posisi sendi lutut fleksi 90° dan telapak kaki menyentuh lantai. Dalam pengukuran prostesis terbagi dalam dua tahap. Adapun prosesnya sebagai berikut :
a) Pengukuran anggota gerak yang mengalami kecacatan (stump)
Stump diukur tiap 5 cm, yaitu dimulai dari lingkar di atas Supra Condylar. Ukuran lingkar stump subyek yaitu : lingkar di atas Supra Condylar 39 cm, lingkar patella 40,5 cm, lingkar bawah patella 33 cm, lingkar terbesar stump 33,5 cm, lingkar terkesil stump 29 cm. Panjang stump 21 cm.
b) Pengukuran anggota gerak yang normal
Dari pengukuran yang telah dilakukan saat pemeriksaan pasien diperoleh data untuk tungkai yang sehat ukurannya antara lain (1) panjang KB 45 cm, (2) lingkar betis terbesar 37 cm, lingkar betis terkecil 22 cm, (3) ukuran telapak kaki panjang 25 cm, lingkar metatarsal joint 24 cm, lingkar punggung kaki 25 cm.
a. pengegipan ( casting)
1) Pembuatan negatife gip
Casting posisi dari lutut 15 ° fleksi, langkah – langkah casting adalah : (1) Menggunakan gip perban, kita membalut stump dari tengah patella bagian atas menuju ke bawah. (2) Membalut stump hingga tiga lapis plaster. (3) Pembalutan plaster ke bawah sampai menutup bagian bawah stump.

4) Pada pembalutan, bandage jangan terlalu kencang yang nantinya dapat menimbulkan overlaping yaitu kerutan – kerutan dan garis pada perban. Sewaktu membalut pastikan tekanan tetap sama dan rata (smooth and flat). 5) Mencetak tendo patella dengan meletakkan kedua ibu pada kedua sisi patella tendon, jari – jari yang lainnya diletakkan pada poplitea area.
Melaksanakan casting yang kedua yaitu mengambil profil supra condylar Melanjutkan dari pembalutan yang pertama yaitu : (1) Membalutkan gips slap yaitu berupa lembaran, dibalutkan hingga lima lapis sepanjang ¾ dari panjang lingkar lutut. (2) Patella berada pada tengah – tengah plaster. (3) Gips diletakkan pada kedua sisi lutut dan dirapikan ke arah supracondylair. Lutut tidak boleh meregang sampai 5°. (4) Membentuk patella dan condylus femur medial dan lateral, pada supracondylair ditekan dengan telapak tangan. Tekanan lebih cembung pada condylus medial femur dan lebih sedikit flare pada bagian lateral. Kemudian catat ukuran supra condylar dengan kaliper / jangka lengkung guna mengetahui ukuran lengkung supra condylar. (5) Bila gips mulai setengah mengeras, maka bisa dilepas. Cara melepas gips yaitu gips dilepas dengan hati – hati dari medial femur condylair kemudian dari bagian lateral. Sekitar 2/3 gips harus dilepas dari sisi medial, dibandingkan dari 1/3 sisi lateral. Bentuk dari negatif gips harus dijaga jangan sampai banyak berubah. Pengecekan bisa dilakukan dengan mengecek ukuran dari lebar supra condylair dengan kaliper.

gambar 1.1
casting
2) pembuatan positif gips
Setelah mendapatkan negatif gips, maka langkah berikutnya adalah membuat positif gips. Pada proses pembuatan positif gips sebaiknya diawali dengan melapisi bagian dalam negatif gips dengan cairan sabun, hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan pembedahan dari pengecoran negatif gips, setelah negatif gips dilapisi dengan cairan sabun, maka negatif gips ditanam dalam pasir, setelah itu dapat disiapkan larutan gips yaitu campuran antara air da powder gips dengan kadar kekentalan yang cukup, kemudian larutan gips dituangkan dalam negatif gips yang telah ditanam pada pasir, setelah kering maka dapat dilakukan pembedahan negatif gips, sehingga kita dapatkan positif gips yang bagus.
Bagian dari pekerjaan gips yaitu modifikasi gips yang dilakukan setelah positif gips didapatkan, modifikasi positif dapat dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut : (1) pengecekan ulang ukuran pada positif gips, (2) pengurangan pada bagian – bagian tertentu pada positif gips, (3) penambahan pada bagian – bagian tertentu positif gips, (4) finishing positif gips dengan membuat seluruh permukaan positif gips halus.

Gamabar 1.2
Modifikasi positif gips

c. Pembuatan ( production / fabrikasi ) komponen

Langkah selanjutnya setelah selesai modifikasi positif gips adalah proses pembuatan (fabrication), proses produksi ini antara lain meliputi pembuatan komponen socket prostesis, komponen bodi shank (sistem modular / endoskeletal prostesis), dan komponen ankle foot assembly.
a. Komponen socket
Socket dibuat dengan dasar positif gips yang sudah didapatkan dan dimodifikasi dari proses casting. Socket yang terdapat pada PTB supra condylar adalah soft socket dan hard socket. Langkah – langkah pembuatan socket antara lain mempersiapkan alat dan bahan terlebih dahulu yaitu (1) ragum, (2) mesin suction, (3) mesin oven, (4) gunting, (5) selotip dan perekat / lem, (6) meteran, (7) alat tulis, (8) pedelin 6 mm, (9) stockinet, (10) polypropylene 4 mm, (11) bedak / talek bayi, (12) sarung tangan. Setelah alat dan bahan telah siap, maka pembuatan socket siap dimulai. Pembuatan hard socket dengan sisitem wrap draping.



Gambar1.3
Pembuatan soft socket dan hard socket
b Komponen endoskeletal prostesis
Endoskeletal shank merupakan tube dari logam atau plastik yang menghubungkan socket dengan SACH foot. Semua tekanan melewati tube dan tidak melewati kover kosmetik.
Endoskeletal biasanya disebut sistem modular yang berarti bagian – bagiannya merupakan buatan masal pabrikan. Endoskeletal shank sesuai digunakan pada kondisi yang membutuhkan kemudahan dalam penggantian komponen, perubahan untuk melakukan perubahan alignment bahkan setelah fitting.Eendoskeletal prostesis terdiri dari bebrapa komponen sebagai barikut : (1) Socket adaptor, (2) Tube, (3) Foot adaptor.
c. Pembuatan ankle foot assembly
Proses pembuatan ankle foot assembly adalah sebagai berikut :
1) Menyediakan pola kaki sesuai dengan ukuran pasien, pola tersebut terdiri dari : (1) Penampang atas, (2) Pergelangan telapak kaki, (3) penampang lateral telapak kaki.
2) Menggambar pola telapak kaki pada bagian yang sudah dipotong sesuai dengan ukuran.
3) Memberi tanda pada pertengahan calcaneus dan jari pertama pada balok kemudian kedua tanda dihubungkan sehingga didapat mid sagital line.
4) Menggambar pola penampang atas pergelangan kaki dengan memperhatikan mid sagital line
5) Menarik garis pada bagian depan pola tersebut sejajar dengan tepi belakang balok kemudian menarik kebawah sehingga sejajar dengan garis tersebut.
6) Pada bagian belakang balok dibuat garis yang sejajar dengan tepi belakang balok dan berjarak 1 cm dari tepi balok.
7) Menghubungkan kedua titik yang diperoleh dari hasil penarikan garik tersebut.
8) Menggambar pola penampang lateral telapak kaki pada sisi medial
9) Setelah semua pola selesai dibentuk, kemudian memotong bagian yang tidak digunakan dengan gergaji atau mesin gergaji dan membentuk dengan menggunakan tatah atau pisau rotter.
10) Mengebor pada bagian belakang telapak kaki tepat pada tengah dari pegelangan kaki dengan menggunakan bor ukuran 9,5 mm hingga tembus kemudian mengebornya dengan ukuran bor 10 mm tetapi tidak sampai tembus.
11) Memotong bagian belakang telapak kaki dengan terlebih dulu membuat garis dari ujung bawah telapak naik keatas 5 cm dan dari sisi belakang ditarik garis kedepan 10 cm kemudian menghubungkan kedua garis tersebut, kemudian dipotong miring dengan menggunakan mesin gergaji.
12) Memasang ring sebagai penguat foot boult.
13) Memasang streng band pada bagian bawah kaki dengan batas 1/3 depan kaki sampai batas chusion heel menggunakan lem dan paku sekrup.
14) Memasang chusion heel yang terbuat dari spon hitam dengan menggunakan lem.
15) Memotong 1/3 bagian depan telapak kaki secara miring seperti huruf ”V” dan memasang break bumper dengan lem pada bagian tersebut.
16) Membentuknya hingga menyerupai bentuk telapak kaki asli dan dapat juga dipahat untuk membentuk kuku.

gambar 1.4
Pembuatan SACH foot

d. Penggabungan komponen ( montage )

Montage adalah proses penggabungan keseluruhan komponen – komponen yang telah selesai dibuat. Komponen prostesis dirangkai menjadi sebuah prostesis yang siap digunakan oleh pasien. Untuk prostesis PTB supra condylar maka perangkaian komponennya meliputi komponen socket, bodi betis, dan komponen kaki.
Sebelum melakukan perakitan pada setiap komponen prostesis harus dipersiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Beberapa alat dan bahan yang perlu dipersiapan dalam proses perakitan prostesis antar lain : (1) kunci L, (2) mesin bor (3) mata bor berdiameter 8 mm.
a. Proses perakitan
Memasang socket adapator pada socket dengan mengebor tengah ujung socket dengan bor 8 kemudian socket adaptor dirakit dengan hard socket menggunakan baut dan dikencankan. Langkah selanjutnya adalah memasang adapator pada SACH foot dan kemudian memasang tube atau pipa. Posisikan socket dengan foot sagital line (MSL) dan COG sebesar 15º fleksi dan 10º abduksi.


gambar 1.5
Montage dan bench alignment

C. Proses Fitting dan Finishing
1. Penggunaan PTB Supra condylar

Sebelum pasien dilatih berjalan sebaiknya dijelaskan bagaimana cara memasang dan melepas alat yang benar. Cara memasang alat ini adalah (1) pasang stockinet pada stump pasien, pemasangan ini baik dilakukan dalam posisi duduk, (2) pemasangan soft socket pada stump pasien setelah penggunaan stockinet, (3) pemasangan hard socket dengan cara stump sedikit fleksi dan apabila stump sudah masuk pada bibir socket maka stump langsung dimasukkan seluruhnya pada socket. Cara melepasnya juga dalam posisi sedikit fleksi kemudian prostesis ditarik ke arah belakang. Prostesis bisa digunakan setiap 2 jam sekali, aetelah itu bisa dsilepasw atau dilonggarkan untuk melencarkan peredaran darah kembali pada stump, bila begitu maka prostesis bisa dilepas dan dilakukan pijatan – pijatan ringan pada stump agar stump bisa rileks kembali dan memberi udara pada socket.

2. Pemeriksaan Alligment

a. static alligment
Mengecek keadaan prostesis saat digunakan pasien dalam keadaan berdiri namun belum digunakan untuk berjalan, dengan begitu akan terlihat kalau prostesis apakah sudah sama tingi dengan tungkai yang sehat atau belum. Adapun statik aligment yang dilakukan sebagai berikut : (1) setelah prostesis digunakan pasien dipersilahkan untuk berdiri dengan kedua tangan berpegangan pada pararel bar yang di depannya ada kaca, (2) mengecek tinggi prostesis dengan cara melihat bahu dan melakukan palpasi pada SIAS guna diukur tingginya apakah sudah selevel, (3) latihan keseimbangan, (4) latihan menumpu berat badan.

gambar 1.6
statik alignment
b. dinamic alligment
Menurut Bella J May dinamic alligment adalah pergerakan sendi lutut dan telapak kaki yang berhubungan dengan socket (Bella J May, 1996). Dilaksanakan dengan cara meminta pasien untuk berjalan menggunakan prostesis pada pararel bar.

3. Walking exercise

Latihan berjalan memiliki beberapa tahap, yaitu
1. Flexion – extension exercise
Pada tahap ini pasien menggunakan prostesis dan berdiri pada paralel bar. Pasien disuruh untuk meletakkan prostesisnya di depan kaki yang normal sekitar 6 inch. Pada posisi ini knee joint pada kondisi ekstensi. Kemudian pasien disuruh untuk memindahkan berat badan dari kaki yang normal ke prostesis secara berulang – ulang. Pada saat berat badan tertumpu pada prostesis posisi knee menjadi fleksi.
2. Role Over exercise
Prostesis diletakkan didepan kaki yang sehat dengan posisi knee fleksi, telapak kaki flat foot dan berat badan ditumpukan pada prostesis, kemudian melangkahkan kaki yang sehat hingga prostesis pada posisi ekstensi.



gambar 1.7
Role Over exercise
3. Short Step Between Rails
Pada latihan roll over kaki seharusnya diletakkan pada sisi yang normal, kemudian pasien harus mengambil langkah alternative tidak lebih dari 6 inch pada tiap sisi. Tujuan dari latihan ini adalah untuk memberikan pasien kesempatan untuk membandingkan gaya pada knee – ankle yang normal dan yang diamputasi dan untuk melanjutkan proses selanjutnya pada kekuatan dan kontrol yang tersedia pada knee joint pada sisi yang diamputasi. Ketika pasien mampu untuk tahap utama pada parallel bar tanpa menggunakan tangannya dengan meneruskan langkah yang lebih lama diluar paralel bar.
4. Walking Outside Rails
Pada tahap ini pasien sudah berlatih di luar paralel bar. Hal ini dilakukan jika pasien sudah dapat berjalan dengan kuat pada irama yang normal di antara paralel bar. Latihan ini pertama – tama dilakukan menggunakan kruk. Latihan menggunakan kruk terdiri dari :

1) Four point gait
yaitu cara melangkah dengan menggunakan empat titik tumpu (dua telapak kaki dan dua ujung kruk).
2) Three point gait
yaitu cara melangkah dengan mnggunakan tiga titik tumpu ( satu telapak kaki dan satu ujung kruk ).
3) Two point gait
yaitu cara melangkah dengan mengunakan dua titik tumpu ( hanya menggunakan sebuah kruk yang di pakai pada kaki yang sehat ).

4. Evaluasi
Saat melaksanakan proses fitting, pasien merasa bahwa (1) prostesis masih mempunyai selisih1 cm pendek sehingga terjadi lateral bending kanan, (2) posisi socket terlalu abduksi, (3) posisi telapak kurang eversi.

5. Rencana tindak lanjut

Dengan adanya evaluasi tersebut di atas maka hal yang dilakukan adalah (1) Melakukan penembahan tinggi prostesis yang masih terpaut tinggi sebanyak 1 cm, (2) memposisikan siocket sedikit ke medial, (3) memposisikan SACH foot sedikit erversi.

6. Proses finishing

Proses akhir dari pembuatan prostesis adalah finishing. Dalam prostesis PTB supra condylar system modular atau endoskeletal prostesis, proses finishing meliputi :

a. Covering foot
Memberikan lapisan vuring pada telapak kaki agar telapak kaki yang terbuat dari kayu terlihat lebih bagus. Hal ini merupakan kosmetik dan juga memberikan daya tahan kayu yang baik terhadap air. Sedangkan bagian bawah telapak kaki dilapisi dengan kulit java box, semuanya diukur dengan pola kemudian direkatkan dengan lem aibon. Dalam proses ini SACH foot terlepas dari komponen prostesis, hal ini dikarenakan untuk memepermudah proses covering.
b. pengencangkan dan penguncian screw
Pengencangan penguncian screw pada socket adaptor dan pada foot adaptor, sehingga aligment prostesis tidak berubah saat digunakan pasien.
d. pemasangan body foam
Foam digunakan sebagai penutup komponen adaptor dan tube untuk membentuk body tungkai bawah pada prostesis. Foam dipotong sesuai kebutuhan, dan direkatkan mengelilingi komponen adaptor dan tube menggunakan lem aibon kemudian diamplas hingga membentuk body tungkai bawah pada prostesis sesuai dengan ukuran pada tungkai bawah sisi yang sehat dari pasien.
e. Pemasangan stocking
Stocking dipasang menutupi semua komponen prostesis, ini ditujukan untuk memeperindah kosmetik dari prostesis tersebut. Stocking ini tidak permanen dapat dilepas sewaktu – waktu.



7. Edukasi dan home training

a. Edukasi
yaitu dengan memberikan saran kepada pasien antara lain meliputi cara pemakaian prostesis, pelapasan prostesis, perawatan prostesis dan stump, serta kontrol ulang. Motivasi untuk menggunakan prostesis juga perlu disampaikan kepada pasien.
1) cara pemakaian dan pelepasan
Seperti yang telah dijelaskan dalam penggunaan PTB Supra condylar sebelumnya.
2) cara perawatan prostesis
Cara perawatan prostesis antara lain adalah : (1) Bila prostesis sedang tidak digunakan, maka simpan prostesis di tempat yang cukup kering dan tidak lembab serta cukup cahaya. (2) Hendaknya socket harus selalu dicuci dengan air sabun atau dibersihkan dengan alkohol secara berkala agar socket bisa tahan lama.
3) perawatan stump
Perawatan stump dapat dilakukan dengan cara antara lain (1) menjaga kebersian stump, (2) memberi pijatan-pijatan ringan pada stump setelah menggunakan prostesis, (3) terus melatih stump dengan gerakan – gerakan ringan sewaktu tidak memakai prostesis, (4) membersihkan stump dan socket dengan alkohol 70 % setelah menggunakan prostesis.
4) kontrol ulang
Memberi tahu kepada pasien agar selalu mengontrol dan mengecek keadaan stump atau prostesis kepada ortotis prostetis yang bisa bekerja sama dengan fisioterapi tiap 6 bulan sekali, atau bila dirasakan ada keluhan yang timbul sewaktu penggunaan prostesis bisa langsung diperiksakan kepada orang yang ahli dalam bidangnya.
Edukasi kepada keluarga pasien juga perlu diberikan, sehingga dalam hal ini keluarga dapat memberi motivasi dan dorongan tersendiri kepada pasien agar selalu menggunakan prostesis secara benar dan juga bisa mengingatkan kepada pasien apabila ada hal – hal penting mengenai penggunaan prostesis ini.
b) home training
Home training dapat dilakukan dengan meminta pasien untuk rajin melatih diri untuk menggunakan prostesis sesuai dengan prosedurnya agar dapat tercapai tujuan menggunakan prostesis ini yaitu untuk fungsi jalan.















BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembahasan
Permasalahan yang timbul dari proses fitting antara lain Saat melaksanakan proses fitting, pasien merasa bahwa (1) prostesis masih mempunyai selisih lebih pendek 1 cm sehingga terjadi lateral bending kanan, (2) posisi socket terlalu abduksi, (3) posisi telapak kurang eversi.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka dilaksanakan proses renovasi prostesis sebelum prostesis di-finishing. Tentu saja setelah dilakukan renovasi prostesis dicobakan lagi kepada pasien agar prostesis benar-benar siap di selesaikan.

B. Kesimpulan
Dalam penentuan diagnosa OP yang tepat dan benar seorang ortotis prostetis harus bisa melakukan pemeriksaan – pemeriksaan, pengukuran, dan pengamatan terhadap pasien saat pengambilan data, Sehingga maksud dan tujuan pembuatan suatu prostesis dapat tercapai. Dalam pembuatannya sendiri diperlukan keseriusan dan ketelitian agar proses OP makin cepat terselesaikan sehingga semakin cepat pula problem pasien dapat diatasi.
Komunikasi antara pasien dan keluarga pasien dengan ortotis prostetis hendaknya selalu terjalin agar proses OP ini benar – benar berjalan seperti yang diharapkan.


C. Saran
Dalam hal ini penulis menyarankan kepada pasien agar selalu termotivasi untuk menggunakan prostesis sesuai dengan kebutuhan dan anjuran dari prostetis. Peran serta keluarga dan tenaga kesehatan yang bersangkutan sangat membantu dalam usaha pencapaian tujuan pemberian alat bantu ortosis atau prostesis.
Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan perlu dipelihara agar tidak terjadi penurunan derajat kesehatan masyarakat.

















DAFTAR PUSTAKA


Bella J May, 1996; Amputation and Prosthetic Case Study Approach; F.A.Davis Company, Phildelphia, USA.

Handicap International, 2006; Petunjuk Pelaksanaan Praktek Klinik Bagi Mahasiswa Prodi OP Poltekkes Surakarta; Surakarta.


READ MORE - PELAKSANAAN FITTING DAN FINISHING

Attention Deficite Hyperactivity Disorder

ADHD atau Attention Deficite Hyperactivity Disorder atau Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (GPPH) pada anak yang merupakan gangguan perilaku sering ditemukan. Seringkali karena kurang pemahaman dari orangtua dan guru serta orang-orang disekitarnya anak diperlakukan tidak tepat sehingga cenderung memparah keadaan.
Anak-anak dengan ADHD umumnya menunjukkan perilaku yang secara umum dibagi dalam dua kelompok, yaitu: kurangnya kemampuan memelihara perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas. APA (American Psychiatric Association) dalam DSM-IV membagi gangguan ini dalam 3 jenis, yaitu: yang gejala utamanya kurang perhatian; gejala utama hiperaktivitas-impulsivitas; dan kombinasi kedua tipe tersebut (Barkley, 1997).
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (GPPH) merupakan suatu gangguan yang timbul pada masa kanak-kanak awal dan dapat terus menimbulkan masalah sampai masa dewasa. Gangguan ini merupakan gangguan psikiatri yang paling sering didiagnosis pada anak-anak, dengan gejala utama hiperaktif, kurangnya perhatian dan impulsif. : Dari 560 pasien di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RS Dadi dan RS Dr. Wahidin Sudirohusodo, didapatkan 66 orang pasien GPPH (11,79%). Dari 66 orang pasien GPPH didapatkan yang terbanyak 56,06% berusia di bawah 5 tahun, 86,36% laki-laki, 36,36% anak yang tertua (sulung), 62,12% dibawa oleh orang tuanya dengan keluhan hiperaktif. Jumlah pasien GPPH yang berkunjung ke Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RS Dadi dan RS Dr. Wahidin Sudirohusodo adalah 11,79% dari jumlah pasien Anak dan Remaja seluruhnya. Terbanyak berusia di bawah 5 tahun dengan keluhan hiperaktif, anak sulung dan berjenis kelamin laki-laki (Nus.2005).
Pesatnya jumlah anak hiperaktif di Indonesia membuat berbagai kalangan seperti dokter anak, psikolog, psikiater, dokter spesialis rehabilitasi medis, okupasi terapi, terapi wicara dan lain-lain (tidak hanya orang tua yang mempunyai anak hiperaktif) harus lebih memperhatikan segala sesuatu tentang hiperaktif. Berbagai pendekatan, metode, teknik, dan treatment dikembangkan untuk membantu anak-anak hiperaktif, dari mulai terapi modifikasi tingkah laku, wicara, diet makanan yang dikonsumsi, farmakoterapi, kognitif, bahkan sampai masalah sensori yang dialami oleh anak hiperaktif.
American Psychiatric Association (1994) menyatakan bahwa prevalensi terjadinya hiperaktivitas sangat bervariasi, hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam batasan dan kriteria hiperaktivitas pada anak yang sangat tergantung dari latar belakang dan lingkungan sekitarnya. Diagnosa and Statistic Manual (DSM IV) menyebutkan prevalensi kejadian ADHD pada anak usia sekolah berkisar 3 hingga 5 persen. Rasio kejadian antara laki-laki dan perempuan adalah 4 : 1 secara epidemiologis, namun secara klinis perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 9 : 1 (Hamid , 2003).

Salah satu treatment masalah pada anak hiperaktif adalah penggunaan terapi bermain. Bermain dikatakan sebagai media untuk eksplorasi dan penemuan hubungan interpersonal, eksperimen dalam peran orang dewasa, dan memahami perasaannya sendiri. Bermain adalah bentuk ekspresi diri yang paling lengkap yang pernah dikembangkan manusia. Bermain adalah rangkaian perilaku yang sangat kompleks dan multi-dimensional, yang berubah secara signifikan seiring pertumbuhan dan perkembangan anak, yang lebih mudah untuk diamati daripada untuk didefinisikan dengan kata-kata. Kesulitan dalam mendefinisikan permainan yang dapat diterima banyak pihak adalah karena tidak adanya satu set permainan yang dapat mencakup banyak tipe permainan. (Lusi Nuryanti, 2007).
Pembatasan Masalah
Karena luasnya masalah yang timbul akibat Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), maka tugas akhir ini akan membahas tentang terapi bermain bagi penyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) untuk mengurangi hiperaktifitas ringan dan hiperaktifitas sedang.






BAB II : Kajian Teori

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)
Definisi
Menurut Barkley yang ditulis kembali oleh Nuryanti (2007) ADHD adalah salah satu kondisi neurologis yang melibatkan gangguan pada proses memusatkan perhatian dan perilaku hiperaktivitas dan impulsivitas, yang tidak sejalan dengan tingkat usia anak. Hal ini menunjukkan bahwa ADHD bukan semata-mata gangguan perhatian seperti asumsi yang selama ini ada, namun lebih kepada kegagalan perkembangan fungsi sirkuit otak yang memonitor kontrol diri dan inhibisi. Hilangnya regulasi diri ini mengganggu fungsi otak yang lain yang penting untuk memelihara perhatian, termasuk kemampuan untuk menunda imbalan.
Menurut DeClerq yang ditulis kembali oleh Mulyono (2003) Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperativitas (GPPH) atau Attension Deficite Hyperactivity Disorder (ADHD), yang sering disebut hanya dengan hiperaktivitas (Hyperactivity), digunakan untuk menyatakan suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukan sikap tidak mau diam, tidak menaruh perhatian dan impulsif (semaunya sendiri)).
Etiologi
Menurut Barkley yang ditulis kembali oleh Nuryanti (2007) sampai saat ini belum jelas faktor apa yang dapat menyebabkan munculnya ADHD, meskipun banyak penelitian yang dilakukan dalam bidang neurologi dan ilmu genetika sepertinya menunjukkan sedikit titik terang. Banyak peneliti mencurigai faktor genetik dan biologis sebagai penyebab ADHD, meskipun lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang juga membantu menentukan perilaku anak yang spesifik.
Studi terhadap gambar otak menunjukkan bagian mana dari otak anak-anak ADHD yang tidak berfungsi dan penyebab tidak berfungsinya bagian itu belum diketahui, namun diduga berkaitan dengan mutasi beberapa gen. Selain faktor genetik tersebut, terdapat beberapa faktor yang sering dikatakan memiliki kontribusi dalam munculnya ADHD, diantaranya: kelahiran prematur, konsumsi alkohol dan tembakau (rokok) saat ibu hamil, terpapar timah dalam kadar tinggi, dan kerusakan otak sebelum lahir. Beberapa pihak lagi mengklaim bahwa zat aditif pada makanan, gula, ragi, dan pola asuh yang kering dapat memunculkan ADHD, namun pendapat ini kurang didukung fakta dan data yang akurat.
Menurut Forman & Dalton yang ditulis kembali oleh Nuryanti (2007) dilihat dari segi corak kognitif, tingkat dan tipe gerakan, serta respon terhadap hadiah, anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperativitas (GPPH) berbeda dari anak normal. Zanetkin dan Repoport telah memperagakan kelainan sken tomografi positron emisi dengan penurunan metabolisme glukosa pada premotor dan korteks prefrontal superior pada orang dewasa yang mengalami Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperativitas GPPH). Area ini meliputi kontrol terhadap perhatian dan aktifitas motorik. Faktor-faktor genetik telah juga dirumuskan sebagai penyumbang utama pada perkembangan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperativitas (GPPH) .
Menurut Suryana yang ditulis kembali oleh Mulyadi (2007) Anak hiperakif menunjukan adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi, dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.
Tanda dan Gejala ADHD
ADHD sering disertai dengan gejala penyerta seperti: agresifitas, perkembangan intelektual 7-15 poin dibawah rerata normal, kemempuan fungsi adaptif dibawah normal, perkembangan bicara dan bahasa terlambat, tidak mampu mengarahkan perilaku sesuai dengan aturan dan instruksi, hambatan dalam internalisasi bahasa, respon emosi terhadap orang lain berlebihan, serta masalah integrasi sensorik motorik (Saputro, 2003).
Kriteria diagnosa ADHD berdasarkan DSM-IV (Diagnostic and Statistical manual of Mental Disorders Fourth Edition) tahun 1994 sebagai berikut :
A. Kelompok (1) atau (2), (1) Gangguan Pemusatan Perhatian (Inattention) Sekurang-kurangnya enam dari gejala Gangguan Pemusatan Perhatian ini muncul minimal dalam enam bulan terakhir,(1).sering gagal memberi perhatian secara teliti, atau kurang teliti dalam bekerja, mengerjakan tugas sekolah atau tugas lainnya, (2) sering mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian dalam suatu tugas dan permainan, (3) sering seakan tidak mendengar ketika dipanggil atau diajak berbicara, (4) sering tidak mengikuti instruksi dan gagal dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah atau suatu pekerjaan (bukan berarti bersikap melawan atau tidak memahami instruksi, (5) sering mengalami kesulitan mengorganisasikan tugas dan aktivitas, (6) sering menghindari, tidak suka atau malas untuk tugas yang memerlukan pengendalian diri (misal dalam mengerjakan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah, (7) sering kehilangan alat-alat untuk mengerjakan tugas atau aktifitas (misal : buku, mainan, peralatan, dan lain-lain), (8) mudah terganggu dengan adanya stimulus dari luar atau mudah beralih perhatiannya, (9) sering lupa pada kegiatan/tugas rutin, (2) Hiperaktifitas-Impulsifitas Sekurang-kurangnya enam dari gejala ini muncul minimal dalam enam bulan terakhir. Hiperaktifitas : (1) sering kaki dan tangan tidak bisa diam atau banyak bergerak di tempat duduk, (2.) sering berdiri atau berjalan pada situasi yang dituntut untuk duduk (di dalam kelas), (3). sering berlari-lari atau memanjat tanpa memperdulikan lingkungan (kelihatan gelisah), (4). mengalami kesulitan utnuk bermain dengan tenang dan santai, (5). sering seakan selalu “bergerak” atau seperti “digerakkan” oleh mesin, (6). sering berbicara terlalu banyak.
Impulsivitas, (1). sering menjawab sebelum pertanyaan selesai, (2). sering tidak bisa menunggu giliran, baik dalam bermain maupun berbicara, (3). sering menginterupsi orang lain (misalnya dalam percakapan atau permainan), (A). Gejala Hiperaktivitas-Impulsivitas atau Gangguan Pemusatan Perhatian muncul sebelum umur 7 tahun, (B).Gejala ini muncul dalam dua atau lebih situasi (misal di sekolah dan di rumah), (C). Harus ada bukti jelas gangguan klinis dalam fungsi sosial, akademik atau pekerjaan, (D). Gejala tidak muncul bersamaan dengan gangguan perkembangan, skizofrenia, gangguan psikotik lain atau gangguan mental. Pemberian kode atau klasifikasi berdasarkan pada tipenya : (1). Tipe kombinasi (ADHD), bila criteria A (1) dan A (2) terjadi bersama-sama selama enam bulan terakhir, (2).Tipe Gangguan Pemusatan Perhatian (ADHD, predominantly inattentive type), bila kriteria A (1) terjadi selama enam bulan terakhir, (3). Tipe hiperaktif-impulsif (ADHD, predominantly hyperactive-impulsive type), bila kriteria A (2) terjadi selama enam bulan terakhir
Menurut Dalton & Forman yang ditulis kembali oleh Nuryanti (2007) Meskipun hiperaktifitas mungkin berlangsung singkat tetapi gejala lain ADHD dapat menetap pada kehidupan berikutnya.

Apabila keadaan tersebut tidak ditangani dengan baik, anak dalam resiko tinggi untuk terjadinya gangguan kemampuan belajar, penurunan kepercayaan diri, masalah sosial, kesulitan keluarga, potensial untuk efek yang timbul dikemudian hari (Sunartini, 2000).

Terapi Bermain
Definisi
. Bermain adalah bagian integral dari masa kanak-kanak, media yang unik untuk memfasilitasi perkembangan ekspresi bahasa, ketrampilan komunikasi, perkembangan emosi, ketrampilan sosial, ketrampilan pengambilan keputusan, dan perkembangan kognitif pada anak-anak (Landreth, 2001).
Menurut Landreth yang ditulis kembali oleh Nuryanti (2007) mendefinisikan bermain sebagai suatu situasi dimana ego dapat bertransaksi dengan pengalaman dengan menciptakan situasi model dan juga dapat menguasai realitas melalui percobaan dan perencanaan.
Menurut Landreth yang ditulis kembali oleh Nuryanti (2007) mendefinisikan permainan sebagai ‘pembiaran pergi’, kebebasan untuk mengalami, membenamkan seseorang secara total dalam momen tersebut sehingga tidak ada lagi beda antara diri dan objek dan diri sendiri dan orang lain. Energi, hidup, spirit, kejutan, peleburan, kesadaran, pembaharuan, semuanya adalah kualitas dalam permainan
Beberapa definisi terapi bermain tersebut mengarah pada beberapa hal penting, yaitu: (a) tipe dan jumlah permainan yang digunakan, (b) konteks permainan, (c) partisipan yang terlibat, (d) urutan permainan, (e) ruang yang digunakan, (f) gaya bermain, (g) tingkat usaha yang dicurahkan dalam permainan.
Mainan kehidupan nyata. Boneka yang terdiri atas keluarga (ibu, bapak, anak), boneka rumah-rumahan, binatang peliharaan, atau tokoh kartun dapat menjadi media untuk mengekpresikan perasaan secara langsung. Terapis juga dapat menggunakan mainan keseharian seperti mobil-mobilan, alat masak memasak tiruan, kartu bergambar ,atau kapal-kapalan untuk melihat pengalaman hidup klien.
Mainan pelepas agresivitas-bermain peran. Klien dapat mengkomunikasikan emosi yang terpendam melalui mainan atau materi seperti karung tinju, boneka tentara, boneka dinosaurus dan hewan-hewan buas, pistol dan pisau mainan, boneka orang, dan balok kayu.
Mainan pelepas emosi dan ekspresi kreativitas. Pasir, air, balok, atau lilin dapat menjadi sarana klien mengekspresikan emosi atau kreativitasnya.
Terapi bermain bagi penyandang ADHD dapat ditujukan untuk meminimalkan atau menghilangkan perilaku agresif, perilaku menyakiti dirisendiri, dan menghilangkan perilaku yang berlebihan. Hal ini dapat dilakukan dengan melatihkan gerakan-gerakan tertentu kepada anak, misalnya tepuk tangan, merentangkan tangan, menyusun balok, bermain palu dan pasak, dan alat bermain yang lain. Dengan mengenalkan gerakan yang lain dan berbagai alat bermain yang dapat digunakan maka diharapkan dapat digunakan untuk mengalihkan agresivitas yang muncul, juga jika anak sering berlarian tak bertujuan. Mengenalkan anak pada permainan konstruktif seperti menyusun balok juga akan membantu anak mengenal urutan dan membantu mengembangkan ketrampilan motorik.
Berdasarkan banyak definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa permainan adalah aktivitas yang mengandung motivasi instrinsik, memberi kesenangan dan kepuasan bagi siapa yang terlibat, dan dipilih secara sukarela. Sementara terapi bermain adalah pemanfaatan permainan sebagai media yang efektif oleh terapis, untuk membantu klien mencegah atau menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, melalui kebebasan eksplorasi dan ekspresi diri ( landreth, 2001)






Memberikan Terapi Bermain


Melakukan Terapi Bermain



Keterangan Gambar :
Gambar diatas menjelaskan bahwa terapi bermain sebagai hubungan interpersonal yang dinamis antara anak dengan terapis yang terlatih dalam prosedur terapi bermain yang menyediakan materi permainan yang dipilih dan memfasilitasi perkembangan suatu hubungan yang aman bagi anak untuk sepenuhnya mengekspresikan dan eksplorasi dirinya (perasaan, pikiran, pengalaman, dan perilakunya) melalui media bermain(Landreth,2001)
Persiapan dan Pelaksanaan Terapi Bermain.
Langkah-langkah dalam persiapan dan pelaksanaan Terapi Bermain yaitu menyiapkan ruangan (ruangan apa yang cocok untuk anak) persiapan support dan stimulasi untuk anak, sehingga setelah sesi terapi bermain anak dalam keadaan tenang.


Kerangka Acuan
Kerangka acuan yang digunakan untuk pelaksanaan terapi bermain ini adalah kerangka acuan perilaku dengan reward jika anak berhasil melakukan instruksi terapis dengan benar dan punishment jika anak berperilaku menyimpang dari tujuan atau berperilaku hiperaktif. Kerangka acuan perilaku dalam Okupasi Terapi dari percobaan psikologi kerja, seperti Thorndike (1898, Pavlov 1927) dan Skiner (1938, 1953). Teori ini disiapkan untuk divormulasikan untuk mengembangkan strategi intervensi dan menghasilkan perubahan prilaku. Perilaku adalah belajar segala bentuk tingkah laku pada bagian ini belajar selalu menarik kesimpulan dari perilaku. Strategi kerangka acuan perilaku yaitu : (1)re-edukasi perilaku berupa punishment, disentisisasi (pembelajaran secara bertahap) digunakan untuk pasien dengan tingkat kecemasan tinggi, (2) mengeliminasi perilaku, bentuknya: (a) behavior management (b)memastikan perilaku yang akan dihilangkan tidak mendapat penguatan (c) time out sebagai control perilaku : (1) belajar perilaku, (2) mengubah perilaku: (a) token ekonomi (seperti kupon atau voucher), (i) system operant conditioning digunakan untuk mengubah perilaku, (ii) token digunakan sebagai reward, (b) view feedback yaitu suatu proses penggunaan alat untuk meningkatkan kondisi fisiologis internal dalam bentuk sinyal, visual, dan auditory. Sinyal tersebut menjadi stimulus untuk betindak dan sebagai reinforcer. Peran Okupasi Terapi dalam kerangka acuan oerilaku yaitu : (1) Memfasilitasi ketrampilan kinerja yang dikehendaki sehingga memampukan individu untuk berfungsi secara optimal dari lingkungan yang diharapkan. (2) Proses fasilitasi yang dilakukan antara lain : (a) Identifikasi dalam kinerja dan mendisain pengalaman belajar, (b) membantu mengelola atau mengeliminasi prilaku inappropriate, (c) menjadi role mode untuk perilaku, (d) secara selektif menguatkan perilaku yang di kehendaki, (e)mendidik keluarga dan care giver dalam penggunaan strategi perilaku. (3) Meningkatkan motivasi pasien. (4) Terapis sebagai model.
Evaluasi
Evaluasi tentang bagaimana pengalaman anak selama melakukan terapi Bermain, perilaku anak sebelum dan setelah sesi Terapi Bermain, masalah yang muncul selama melakukan Terapi Bermain, apakah Terapi Bermain berdampak positif atau negatif, evaluasi dilakukan berdasarkan pemeriksaan awal saat observasi.












Bab III : Pelaksanaan Terapi

Terapi bermain merupakan salah satu dari berbagai terapi anak penyandang ADHD yang berfungsi sebagai acuan untuk mengurangi aktifitas yang berlebihan, dan terapi bermain di bawah ini merupakan proses dari terapi bermain untuk mengurangi aktifitas yang berlebihan atu hiperaktif anak penyandang ADHD usia satu sampai lima tahun.

Pelaksanaan Terapi
Terapi Bermain dapat dilakukan dengan melatihkan gerakan-gerakan tertentu kepada anak, misalnya tepuk tangan, merentangkan tangan, menyusun balok, bermain palu dan pasak, dan alat bermain yang lain. Dengan mengenalkan gerakan yang lain dan berbagai alat bermain yang dapat digunakan maka diharapkan dapat digunakan untuk mengalihkan agresivitas yang muncul, juga jika anak sering berlarian tak bertujuan (Weissbourd dalam Landreth, 2001).
Aktifitas Menyusun Balok
Aktifitas menyusun balok dilakukan untuk membantu anak mengenal urutan dan membantu mengembangkan ketrampilan motorik halus serta mengenalkan anak pada permainan konstruktif sehingga diharapkan perilaku stereotip yang tidak bermanfaat dapat diminimalkan. Aktifitas ini dapat dilakukan diruangan tertutup atau terbuka menggunakan media balok warna-warni kemudian anak diminta menyusun, dengan terlebih dahulu terapis memberikan contoh, kemudian anak mengikuti, posisi terapis berada didepan pasien untuk mengarahkan anak membuat bentuk konstruktif yang di inginkan.Terapi ini digunakan pada anak ADHD dengan kondisi hiperaktif apa saja tetapi harus bersama-sama dengan terapi obat-obatan sehingga proses terapi bisa bejalan lancar. Yang perlu diperhatikan dalam aktifitas menyusun balok adalah terapis harus menjaga anak waktu menyusun balok sehingga balok tidak dilempar atau dimakan (dimasukan ke mulut) (Weissbourd, 2001).

Gambar 1: Aktivitas menyusun balok






Aktifitas Bermain palu dan pasak
Aktifitas bermain palu dan pasak bertujuan membantu anak untuk meluapkan emosi dan membantu mengembangkan ketrampilan motorik halus serta atensi sehingga diharapkan perilaku menyakiti diri sendiri dapat diminimalkan. Aktifitas ini dapat dilakukan diruangan tertutup dalam posisi duduk dengan terapis berada didepan pasien untuk mengarahkan konsentrasi terhadap aktifitas yang di berikan. Media yang dipersiapkan adalah mainan palu dan pasak, pertama-tama anak diperintahkan untuk duduk kemudian anak diberi perintah untuk memukul pasak dengan palu satu persatu hingga selesai. Untuk aktifitas bermain palu dan pasak terapis harus menjaga agar anak tetap konsentrasi terhadap permainan, sehingga palu tidak dipukulkan ke terapis atau ke diri anak sendiri Aktifitas ini untuk kondisi ADHD dengan hiperaktif ringan jika harus digunakan untuk hiperaktif berat atau sedang terlebih dahulu dilakukan terapi obat-obatan untuk mengurangi hiperaktifitas (Weissbourd, 2001).

Gambar 2: Aktivitas bermain palu dan pasak

Aktifitas Menari atau Bermain Musik
Aktifitas menari atau bermain musik meliputi aktivitas menyanyi, menari mengikuti irama dan memainkan alat musik. Musik dapat sangat bermanfaat sebagai media mengekspresikan diri.
Dalam aktifitas menari atau bermain musik anak diminta untuk menirukan gerakan terapis dengan posisi duduk atau berdiri dalam memainkan alat musik atau menari di depan cermin diiringi dengan musik (terapis tidak memaksa anak untuk melakukannya). Cara ini bertujuan untuk meningkatkan atensi dan konsentrasi anak dalam satu aktivitas sehingga diharapkan anak dapat fokus terhadap aktivitas yang diberikan terapis dan mampu mengekspresikan diri melalui aktifitas ini. Jika anak dapat memusatkan atensi dan konsentrasi maka hiperaktifnya akan berkurang dan dapat mengurangi perilaku menyakiti diri sendiri. Media yang digunakan pada aktifitas ini cukup sederhana yaitu cemin besar, tape recorder atau CD player dan kaset Aktifitas ini dilakukan diruang tertutup dengan posisi terapis berada disamping pasien untuk memberi instruksi gerakan dan perintah. Dalam aktifitas menari atau bermain musik yang perlu diperhatikan adalah minat anak terhadap musik yang diputar, jika anak mulai berlarian berarti anak sudah merasa jenuh atau tidak suka dengan musik tersebut sehingga perlu diganti. Aktifitas ini untuk kondisi ADHD dengan hiperaktif ringan jika harus digunakan untuk hiperaktif berat atau sedang terlebih dahulu dilakukan terapi obat-obatan untuk mengurangi hiperaktifitas (Sleeuwen, 1996 ).

Gambar 3: Aktifitas Menari atau Bermain Musik
Aktifitas Menggambar
Aktifitas menggambar seperti yang kita ketahui anak hiperaktif biasanya tidak mampu mengontrol waktu sehingga latihan pemecahan aktivitas menggambar diperlukan.
Aktifitas ini dipecah-pecah menjadi komponen-komponen kecil seperti mengambil kertas, mengambil pensil, dan mengambil crayon. Tahap-tahap komponen ini kemudian diajarkan satu persatu kepada pasien. Aktivitas menggambar bertujuan untuk melatih mengorganisasikan waktu sehingga kita harus membantu untuk memecah-mecah tugas menjadi komponen-komponen kecil yang sederhana. Aktifitas yang pertama anak diperintahkan untuk mengambil kertas setelah anak selesai mengambil kertas kemudian anak ditanya ” jika kita mau menggambar maka kita harus punya pensil, mana pensilnya...? kemudian terapis mengajak untuk untuk mengambil pensil, setelah anak selesai mengambil pensil baru terapis memberi instruki menggambar, setelah selesai anak diprintahkan untuk mengambil krayon untuk mewarnai gambar tersebut media yang digunakan untuk aktifitas menggambar adalah kertas gambar, pensil dan krayon. Aktifitas ini dilakukan diruang tertutup dengan posisi terapis berada didepan pasien untuk memberi instruksi urutan aktivitas yang harus dilakukan. Aktifitas ini digunakan untuk anak ADHD dengan hiperaktif yang ringan jika harus digunakan untuk hiperaktif berat atau sedang terlebih dahulu dilakukan terapi obat-obatan untuk mengurangi hiperaktifitas (Weissbourd, 2001).


.
Gambar 4 : Aktifitas menggambar






Aktifitas Bermain puzzle
Latihan puzzle digunakan untuk mengembangkan kontak mata, atensi, dan konsentrasi serta koordinasi mata, tangan dan melatih konsep. Media yang digunakan bisa puzzle hewan, puzzle manusia dan puzzle yang lain, pertama-tama anak diperintahkan untuk duduk kemudian terapis memberikan satu persatu biji puzzle kepada anak dan anak diminta untuk melihat biji puzzle saat diberikan dan menata sesuai dengan bentuk puzzle tersebut. Aktifitas ini dilakukan diruang tertutup dalam posisi duduk dikursi dan puzzle diatas meja dengan posisi terapis duduk berhadapan dengan anak untuk memberi instruksi yang harus dilakukan, yang harus diperhatikan dalam aktifitas ini adalah terapis harus tetap waspada jika terjadi anak melempar puzzle atau memasukan biji puzzle kedalam mulut. Aktifitas ini digunakan untuk anak ADHD dengan hiperaktif yang ringan jika harus digunakan untuk hiperaktif berat atau sedang terlebih dahulu dilakukan terapi obat-obatan untuk mengurangi hiperaktifitas (Weissbourd, 2001).

Gambar 5 : Aktifitas Bermain puzzle
Aktifitas kepatuhan
Latihan kepatuhan dilakukan diruangan tertutup setelah sesi terapi selesai. Anak diminta mengambil mainan kemudian dimasukkan ke dalam keranjang. Media yang digunakan adalah mainan yang telah selesai dipakai saat terapi, latihan kepatuhan ini dilakukan saat terapi selesai dengan meminta anak untuk membereskan mainam dengan insntruksi ” bereskan” atau ” masukan ketempatnya” dan lain sebagainya. Aktivfitas ini bertujuan untuk melatih tanggung jawab terhadap barang milik anak sendiri sehingga diharapkan saat anak bermain sendiri setelah selesai anak mampu membereskan mainan yang berserakan ketempat yang semestinya. dalam aktifitas ini posisi terapis duduk dan mengarahkan saja hingga mainan selesai dibereskan dan menghentikan jika anak melempar- lempar mainan. Aktifitas ini digunakan untuk anak ADHD dengan hiperaktif yang ringan jika harus digunakan untuk hiperaktif berat atau sedang terlebih dahulu dilakukan terapi obat-obatan untuk mengurangi hiperaktifitas (Weissbourd, 2001).

Gambar 6 : Aktifitas kepatuhan
Aktivitas Lempar Tangkap
Aktifitas lempar tangkap ini dilakukan diruangan terbuka dengan posisi terapis dan anak berdiri berhadapan dengan jarak tertentu, dengan media bola, untuk aktifitas lempar tangkap bola anak diminta memegang bola kemudian terapis memberi instruksi untuk melempar bola tersebut dan terapis melempar kembali ke anak untuk ditangkap Bertujuan untuk membentuk kontak mata. Permainan yang dapat dipilih misalnya lempar tangkap bola dengan bantuan, ‘lihat ini’, ’tangkap’, ’lempar’ dan lain-lain.yang perlu diperhatikan dalam aktifitas lempar tangkap terapis harus memperhatikan lemparan anak dan kontak matanya sehinnga lemparan tidak meleset dan melukai anak atu anak berlarian kesana-kemari karena distraksi dari luar sehingga terapis harus memposisikan anak menghadap ke dinding dengan terapis berada didepan pasien. Aktifitas ini digunakan untuk anak ADHD dengan hiperaktif yang ringan jika harus digunakan untuk hiperaktif berat atau sedang terlebih dahulu dilakukan terapi obat-obatan untuk mengurangi hiperaktifitas (Weissbourd, 2001).

Gambar 7 : Aktivitas lempar tangkap
Aktifitas bermain lompat-lompatan
Aktivitas ini dilakukan diruangan tertutup dengan posisi anak berdiri diatas trampolin dan terapis memegangi ke dua tangan anak, anak diminta untuk loncat-loncat diatas trampolin dengan teratur berdasarkan hitungan terapis tidak loncat dengan ngawur, bertujuan untuk mengurangi tenaga yang berlebihan sehingga anak tidak berperilaku hiperaktif. Sebaiknya terapis memegang dengan erat kedua tangan anak sehingga anak tidak terjatuh. Aktifitas bermain trampoline dapat digunakan untuk anak ADHD dengan kondisi hiperaktif berat. Aktifitas ini hanya menggunakan media trampoline untuk proses terapinya (Weissbourd, 2001).

Gambar 8 : Aktifitas bermain lompat-lompatan
Aktivitas Bermain tebak gambar
Aktifitas bermain tebak gambar digunakan untuk mengembangkan kontak mata, atensi, dan konsentrasi dan daya ingat. Media yang digunakan untuk aktifitas bermain tebak gambar ini adalah kartu bergambar angka, binatang, buah dll tujuanya mengalihkan perhatian anak agar tidak berlaku hiperaktif, aktifitas ini dilakukan dengan cara anak diminta menyebutkan gambar yang ditunjukan terapis satu-persatu. Aktifitas ini dilakukan diruang tertutup dengan posisi terapis duduk berhadapan dengan pasien untuk memberi instruksi yang harus dilakukan dan memberikan bantuan jika pasien kesulitan.terapis harus tetap memegangi kertas bergambar agar kertas tidak disobek atau dirusakan. Aktifitas ini digunakan untuk anak ADHD dengan hiperaktif yang ringan jika harus digunakan untuk hiperaktif berat atau sedang terlebih dahulu dilakukan terapi obat-obatan untuk mengurangi hiperaktifitas (Weissbourd, 2001).


Gambar 9 : Aktivitas Bermain tebak gambar





Aktivitas Meronce
Permainan meronce digunakan sebagai latihan menunggu giliran dan melatih emosi anak, media yang digunakan yaitu biji untuk meronce dan benang, pertama-tama anak diminta untuk duduk kemudian terapis memberikan biji meronce dan meminta anak untuk meroncenya, aktivitas ini sebaiknya dilakukan diruang tertutup dengan posisi duduk dan terapis didepan dengan sedikit mengarahkan sehingga anak dapat memusatkan perhatian pada satu aktivitas. Dalam aktifitas ini terapis harus memperhatikan anak agar anak, melemparkan biji meronce atau memasukan kedalam mulut atu memberantakan biji meronce. Aktifitas ini digunakan untuk anak ADHD dengan hiperaktif yang ringan jika harus digunakan untuk hiperaktif berat atau sedang terlebih dahulu dilakukan terapi obat-obatan untuk mengurangi hiperaktifitas (Weissbourd, 2001).

Gambar 10 : Aktivitas Meronce.



Aktivitas naik turun tangga
Aktivitas ini dilakukan untuk menguras tenaga yang berlebihan sehingga anak tidak bersifat agresif dan hiperaktif,media yang digunakan untuk aktifitas ini adalah tangga dari kayu atau dari besi dan matras, pertama-tama anak diminta untuk berdiri didepan tangga kemudian anak diinstruksikan naik turun tangga dengan terapis berada dekat dengan anak untuk menjaga jika anak terjatuh, dalam aktifits ini terapis harus tetap siaga untuk mengantisipasi anak bila terjatuh dari tangga. Aktivitas naik turun tangga ini dilakukan diruang tertutup. Aktifitas ini digunakan untuk anak ADHD dengan hiperaktif yang ringan jika harus digunakan untuk hiperaktif berat atau sedang terlebih dahulu dilakukan terapi obat-obatan untuk mengurangi hiperaktifitas (Weissbourd, 2001).

Gambar11 : Aktivitas naik turun tangga




BAB IV : Penutup
Kesimpulan
Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) yang biasa disebut hiperaktivitas (hyperactivity) merupakan pola perilaku seseorang yang kurang konssentrasi pada satu aktifitas, mudah terdistraksi an tak mau diam atau duduk walaupun hanya sebentar saja. Sehingga perlu dilakukan terapi untuk meminimalkan gangguannya, salah satu terapi yang bisa dilakukan yaitu terapi bermain.
ADHD dapat disebabkan karena kerusakan kecil pada Sistem Saraf Pusat dan otak sehingga tidak mampu mempertahankan konsentrasi dalam jangka waktu lama meskipun hanya lima menit. Penyebab lainnya yaitu pengaruh lingkungan yang kurang baik, kecelakan sebelum lahir atau setelah kelahiran, infeksi, virus dan gizi buruk.
American Psychiatric Association (1994) menyatakan bahwa prevalensi terjadinya hiperaktivitas sangat bervariasi, hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam batasan dan kriteria hiperaktivitas pada anak yang sangat tergantung dari latar belakang dan lingkungan sekitarnya. Diagnosa and Statistic Manual (DSM IV) menyebutkan prevalensi kejadian ADHD pada anak usia sekolah berkisar 3 hingga 5 persen. Rasio kejadian antara laki-laki dan perempuan adalah 4 : 1 secara epidemiologis, namun secara klinis perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 9 : 1.

Salah satu treatment masalah pada anak hiperaktif adalah penggunaan terapi bermain. Bermain dikatakan sebagai media untuk eksplorasi dan penemuan hubungan interpersonal, eksperimen dalam peran orang dewasa, dan memahami perasaannya sendiri. Bermain adalah bentuk ekspresi diri yang paling lengkap yang pernah dikembangkan manusia. Bermain adalah rangkaian perilaku yang sangat kompleks dan multi-dimensional, yang berubah secara signifikan seiring pertumbuhan dan perkembangan anak, yang lebih mudah untuk diamati daripada untuk didefinisikan dengan kata-kata. Kesulitan dalam mendefinisikan permainan yang dapat diterima banyak pihak adalah karena tidak adanya satu set permainan yang dapat mencakup banyak tipe permainan.
Terapi bermain adalah salah satu alternatif diantara sekian banyak program terapi yang sudah dikembangkan bagi anak ADHD.
Manfaat pemberian Terapi Bermain untuk anak ADHD adalah meminimalkan gangguan agresifitas, hiperaktifitas serta gangguan atensi dan konsentrasi sehingga anak mampu berkembang sesuai denngan usia perkembanganya.

Saran
Sebaiknya terapi bermain ini dilakukan bersama-sama dengan terapi yang berupa obat-obatan yang membantu untuk mengendalikan agresifitas, memberikan ketenangan kepada anak dan mengurangi kecemasan.
Daftar Pustaka

APA. 1994. DSM-IV, 4th Ed. Washington DC: The American Psychiatric Association

Barkley, R.A. 1998. Attention-deficit hyperactivity disorder. Scientific American, 279:3.

Barkley, R.A. 1997. Behavioral inhibition, sustained attention, & executive functions: constructing a unifying theory of ADHD. Psychological Bulletin, 121:1, 65-94
Bruce, M.A & Borg, B. (1987) Frame Of Reference In Occupational Therapy. New Jersey : Slack Incoporated.

Caldera, Y.M., et al., 1999. Children ‘s Play Preferences, Construction Play with Blocks, and Visual-Spatial Skills: Are They Related? International Journal of Behavior Developmental Psychology. Vol. 23. No. 4,855-872.

Coplan, R.J, et al., 2004. Do You “want “ to Play? Distinguishing Between Conflicted Shyness and Social Disinterest in Early Childhood. International Journal of Behavior Developmental Psychology. Vol. 40. No. 2, 244-258.

Hartini, N., 2004. Pola Permainan Sosial: Upaya Meningkatkan Kecerdasan Emosi Anak, Anima, Vol. 19, No. 3, 271-285

Hoeksema, S.N., 2004. Abnormal Psychology. 3rd ed. New York: McGraw-Hill Companies. Inc.

International Association for Play Therapy (APT), Play Therapy. Retrived. mei, 05, 2008 dari http://klinis wordpress.com.

Landreth, G.L., 2001, Innovations in Play Therapy: Issues, Process, and Special Populations, Philadelphia, Brounner-Routledge

Lyytinen, P., Dikkens, A. M., dan Laakso, M.L. 1997. Language and Symbolic Play in Toddlers. International Journal of Behavior Developmental Psychology. Vol. 21. No. 2, 289-302.

McConnell, R.S., 2002. Interventions to Facilitate Social Interaction for Young Children with Autism: Review of Available Research and Recommendations for Educational Intervention and Future Research. Journal of Autism and Developmental Disorders. Vol. 32. No. 5, October 2002, 351-372
National Institute of Mental Health (NIMH), 1999. Questions and Answers. NIMH Multimodal Treatment Study of Children with ADHD. Bethesda, MD: NIMH

Nuryanti, L. (2007). Penerapan Terapi bermain bagi Penyandang ADHD1. Retrieved mei, 05, 2008 dari http://klinis wordpress.com.

Nuryanti, L. (2007). Penerapan Terapi bermain bagi Penyandang ADHD2. Retrieved mei, 05, 2008 dari http://klinis wordpress.com.

Nuryanti, L. (2007). Penerapan Terapi bermain bagi Penyandang ADHD3. Retrieved mei, 05, 2008 dari http://klinis wordpress.com.


















Data penulis

Nama : Agung Tri Cahyono
Tempat, tanggal lahir : Sukoharjo 16 Februari 1984
Alama asal : Singopuran RT 04 RW 02, Kartasura, Sukoharjo
Riwayat pendidikan :
1. SD di SD Negeri 2 Singopuran, tahun 1997
2. SLTP di SLTP 3 Negeri Kartasura, tahun 2000
3. SMU di SMK Negeri 7 Surakarta, tahun 2003























ABSTRAK



Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperativitas (GPPH) atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), merupakan gangguan pada seseorang yang menunjukan perilaku tidak mau diam walaupun hanya sebentar, perilaku ini ditandai dengan tidak tahan menunggu giliran, mudah terdistraksi dan sulit untuk berkonsentrasi.
Anak-anak dengan ADHD umumnya menunjukkan perilaku yang secara umum dibagi dalam dua kelompok, yaitu: kurang atensi,konsentrasi dan hiperaktivitas-impulsivitas atau kombinasi kedua.
Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas (GPPH) merupakan suatu gangguan yang timbul pada masa kanak-kanak awal dan dapat terus menimbulkan masalah sampai masa dewasa. Gangguan ini merupakan gangguan psikiatri yang paling sering didiagnosis pada anak-anak, dengan gejala utama hiperaktif, kurangnya perhatian dan impulsif. : Dari 560 pasien di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RS Dadi dan RS Dr. Wahidin Sudirohusodo, didapatkan 66 orang pasien GPPH (11,79%). Dari 66 orang pasien GPPH didapatkan yang terbanyak 56,06% berusia di bawah 5 tahun, 86,36% laki-laki, 36,36% anak yang tertua (sulung), 62,12% dibawa oleh orang tuanya dengan keluhan hiperaktif. Jumlah pasien GPPH yang berkunjung ke Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RS Dadi dan RS Dr. Wahidin Sudirohusodo adalah 11,79% dari jumlah pasien Anak dan Remaja seluruhnya. Terbanyakberusia di bawah 5 tahun dengan keluhan hiperaktif, anak sulung dan berjenis kelamin laki-laki. Sehigga membuat dunia kesehatan memperhatikan segala sesuatu tentang hiperaktif. Berbagai pendekatan, metode, teknik, dan tindakan dikembangkan untuk membantu anak-anak hiperaktif, dari mulai terapi modifikasi tingkah laku, wicara, diet makanan yang dikonsumsi, farmakoterapi, kognitif, bahkan sampai masalah sensori yang dialami oleh anak hiperaktif. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan untuk menangani gangguan hiperaktif adalah penggunaan terapi bermain. terapi bermain merupakan hubungan interpersonal yang dinamis antara anak dengan terapis yang menyediakan materi permainan yang dipilih dan memfasilitasi perkembangan suatu hubungan yang aman bagi anak untuk sepenuhnya mengekspresikan dan eksplorasi dirinya (perasaan, pikiran, pengalaman, dan perilakunya) melalui media bermain.
. Dalam Karya Tulis Ilmiah ini akan diuraikan tentang penerapan terapi bermain bagi penyandang Attension Deficite Hyperactivity Disorder (ADHD) untuk mengurangi aktivitas yang berlebihan atau hiperaktifitas.


READ MORE - Attention Deficite Hyperactivity Disorder

Popular Posts