Monday, November 28, 2011

UJI KORELASI ANTARA VAS DAN MODIFIKASI VAS DALAM MENGUKUR INTENSITAS NYERI

Disusun oleh : Ahmad Abidin 


 
        Menurut Internasional Association for the Study of Pain ( IASP ), nyeri digambarkan sebagai "suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kerusakan jaringan yang sudah atau berpotensi terjadi, atau dijelaskan berdasarkan kerusakan tersebut" ( Hartwig, Wilson, 2006). Definisi ini menghindari pengkorelasian nyeri dengan suatu rangsangan ( stimulus ); definisi ini juga
menekankan bahwa nyeri bersifat subyektif dan merupakan suatu sensasi sekaligus emosi. Bagi praktisi klinis, nyeri adalah suatu masalah yang membingungkan. Tidak ada pemeriksaan untuk mengukur atau memastikan nyeri; para praktisi klinis hampir semata mengandalkan penjelasan pasien tentang nyeri dan keparahannya. Nyeri merupakan alasan tersering yang diberikan oleh pasien apabila ditanya mengapa mencari pengobatan. Dampak nyeri terhadap perasaan pasien sudah demikian luas diterima sehingga banyak institusi sekarang menyebut nyeri sebagai  "tanda vital kelima", dan mengelompokkanya bersama tanda klasik suhu, nadi, pernapasan, dan tekanan darah ( Noble  et al, 2005).
Keluhan nyeri dapat dirasakan oleh hampir seluruh jaringan tubuh, mengingat hampir seluruh sistem jaringan tubuh kaya akan persarafan termasuk  saraf pembawa impuls nyeri  sehingga keluhan nyeri dapat bermacam-macam seperti nyeri pinggang bawah , nyeri lutut , nyeri leher , dll . Keluhan nyeri merupakan keluhan yang sering mendorong penderita untuk mencari pertolongan di rumah sakit termasuk unit fisioterapi ataupun klinik fisioterapi perseorangan (Parjoto, 2007).
            Nyeri merupakan  pengalaman yang sangat pribadi dan bersifat subyektif, karena bentuk nyeri maupun intensitas atau kuatnya nyeri yang dikatakan oleh penderita adalah sebagaimana yang dirasakan oleh penderita yang bersangkutan (Maramis, 1996). Pendapat ini sejalan dengan pendapat Nicholson (2000) yang menyatakan bahwa nyeri merupakan suatu pengalaman yang bersiifat subyektif dan psikologik. Karena nyeri banyak dimensinya sehingga pengukuran tunggal tentang intensitas nyeri tidak akan menggambarkan secara adekuat perbedaan antara nyeri tusukan, sakit gigi dan terbakar.
            Nyeri bisa terjadi bila ada stimulus yang memenuhi syarat yang dimediasi atau difasilitasi oleh bahan kimiawi tertentu seperti leukotrin, prostaglandin, interleukin dan tromboksan  sehingga menimbulkan impuls nyeri atau impuls nosiseptif di nosiseptor yang dikenal sebagai proses transduksi yang kemudian ditransmisikan ke arah sentral melalui tanduk belakang medulla spinalis, batang otak, mesensefalon, korteks serebri dan korteks asosiasinya  untuk kemudian disadari baik  mengenai sifat,  lokasi maupun  berat ringannya  (Kuntono, 2007).
             Subyektivitas keluhan nyeri sulit untuk diukur, walaupun begitu penting  bagi kita untuk mengukurnya karena dengan melakukan pengukuran nyeri akan memberikan gambaran tentang kondisi yang dihadapi pasien  dan memberikan efek yang positif terhadap coping abilities pasien, selain itu pengukuran terhadap nyeri  penting pula untuk menentukan respon pasien terhadap treatment yang diberikan dan membantu untuk menentukan prognosis.
            Assesment nyeri telah dimulai sejak pertengahan abad 20 ( Noble et al,2005), salah satu teknik pengukurannya adalah dengan menggunakan Visual Analogue Pain Rating Scale ( VAS ). VAS merupakan alat ukur yang simpel untuk merekam prakiraan subyektif intensitas nyeri, VAS merupakan alat ukur yang sederhana untuk mengukur / mengetahui perkiraan derajad / intensitas nyeri secara subjektif. Alat ukur ini awalnya digunakan dalam pemeriksaan psikologi sejak abad ke 20. Sekitar tahun 70an Huskisson mempopulerkan alat ukur ini dalam aplikasi klinis. VAS berupa sebuah garis lurus sepanjang 10 cm. Garis ini mempresentasikan gambaran intensitas nyeri yang harus ditunjukkan oleh pasien.  Pada kedua ujung garis tersebut, Huskisson menggunakan kalimat No Pain ( tidak nyeri ) dan Pain As Bad As It Could Be ( nyeri hebat yang tidak tertahankan ). Penggunaan garis horisontal secara umum lebih disukai dari pada vertikal, kecuali menurut penelitian di Cina yang menunjukkan hal sebaliknya ( Basuki, 2008, dikutip oleh Wibowo, 2008 ).
            Walaupun VAS sudah lama digunakan disebagai alat ukur intensitas nyeri, namun dipraktek klinis sering ditemukan berbagai perbedaan tentang teknik pengukuran, prosedur maupun cara pendokumentasiannya sehingga dalam melakukan evaluasi kadang menjadi rancu interpretasi. Sebagai contoh pada kondisi-kondisi nyeri muskuloskeletal untuk melakukan pengukuran intensitas nyeri adakalanya harus dilakukan provokasi terlebih dahulu  untuk mengukur intensitas nyerinya.  Berdasar    kondisi   tersebut   maka  pengukuran   intensitas  nyeri dengan
menggunakan suatu alat ukur seharusnya dilakukan dengan tata cara yang sama baik teknik, prosedur, interpretasi, maupun pendokumentasianya. Pada kondisi muskuloskeletal keluhan nyeri sering dikaitkan dengan aktivitas fungsional, sehingga untuk mengukur derajat nyeri perlu digunakan modifikasi dengan index fungsional untuk objektivikasinya.
            Pengalaman penulis pribadi  dan beberapa kawan  praktisi klinis di lapangan dalam menggunakan VAS garis horizontal sepanjang 10 cm untuk mengukur intensitas nyeri, dimana pada sebagian pasien ada sedikit kesulitan mereka memahami pengukuran intensitas nyeri yang dirasakan dengan penggunaan  VAS garis tersebut. Selain itu pada sebagian pasien bila diminta untuk menunjukkan intensitas  nyeri yang dirasakannya dengan VAS garis horizontal sepanjang 10 cm yang diajukan, justru memberikan jawaban berupa skor / angka. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka  kami berinisiatif untuk melakukan penelitian pengukuran intensitas nyeri dengan modifikasi VAS dimana intensitas nyeri diungkapkan secara verbal berupa angka dengan rentang 0 – 100, dan alat pengukuran standard yang akan digunakan yaitu VAS standard berupa garis horisontal sepanjang 10 cm dimana hasil akhir  pengukurannya akan dituliskan dalam satuan millimeter.
            Dalam penelitian ini kami menggunakan VAS berupa garis horizontal sepanjang 10 cm sebagai alat standard untuk mengukur intensitas nyeri kemudian dikomparasikan dengan alat ukur yang akan diuji korelasinya yaitu VAS modifikasi dengan angka. VAS berupa garis horisontal disini kami pilih berdasarkan pada penelitian-penelitian sebelumnya, dimana VAS garis   horisontal digunakan   sebagai
alat pengukuran standard pada Pain Management Service di Louisiana State University Health Sciences Center, Shreveport (LSUHSC-S), USA (2008 )  "Our analysis takes a measurement engineering approach by looking at the reliability and validity of Verbal Rating Scale, using Visual Analog Scale as the standard", demikian juga pada jurnal yang diterbitkan oleh Trauma Center of America ( 2008 )   "The Visual Analogue Scale (VAS) is the standard tool for rating of pain" serta pada jurnal  yang ditulis Myles, Urquhart ( 2008 ), dari Department of Anaesthesia and Pain Management, Alfred Hospital and Monash University, Melbourne, Victoria "The visual analogue scale (VAS) is a standard measurement toolin pain research and clinical practice"

No comments:

Post a Comment

Popular Posts